Oleh: Zainuddin
ABSTRAK
Teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) ditemukan
dan dikembangkan pertama kali oleh Howard Gardner, seorang ahli psikologi
perkembangan dan professor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard
University, Amerika Serikat. Menurutnya,
kecerdasan majemuk telah menjadi pengetahuan umum bagi pendidik sekarang. Setiap anak pun memiliki
kecerdasannya masing-masing. Awalnya, kecerdasan hanya dikonotasikan dengan
nilai kecerdasan otak (Intelligence Quotient/IQ). Maka
dari itu, setiap pendidik harus mampu mengenali potensi anak didik, khususnya
pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) guna membantu pengembangan karakter dan
rasa percaya dirinya dalam menghadapi tantangan global nantinya. Adapun
kecerdasan majemuk yang di kembangkan Howard Gardner diantaranya; kecerdasan
linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan
musikal, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan interpersonal, kecerdasan
intrapersonal, kecerdasan lingkungan, kecerdasan eksistensial.
Kata
Kunci: Multiple Intelligences, Anak Usia Dini
A.
PENDAHULUAN
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana serta sistematis untuk mengembangkan seluruh
potensi anak untuk menghadapi kehidupan dimasa yang akan datang. Pendidikan
dimulai sejak lahir (usia dini) sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi
seperti Perguruan Tinggi. Pendidikan yang baik seyogyanya dilakukan sejak usia
dini, hal ini diyakini dapat menjadi pondasi kesuksesan anak di masa yang akan
datang dan sekaligus dapat menentukan masa depan bangsa. Untuk itu, pemerintah
menjadikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai program untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Program pendidikan bagi anak-anak usia dini (PAUD) merupakan program
pembelajaran untuk mengembangkan segala potensi anak yang ditujukan terhadap
anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun (0-6) (M. Hariwijaya dan
Bertiani Eka Sukaca, 2009: 14). Program pendidikan anak usia dini lazimnya
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut.
Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional; Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak
lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU. SIstem
Pendidikan Nasional, 2009: 5).
Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar
di sepanjang rentang pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia. Salah satu
periode yang sangat penting dimana pada masa ini adalah masa the Golden Ages
atau masa keemasan. Banyak konsep dan fakta yang ditemukan memberikan
potensi keemasan pada masa usia dini, dimana semua potensi anak berkembang
pesat. Masa anak usia dini adalah masa eksplorasi, masa identifikasi/imitasi,
masa peka, masa bermain (Trianto, 2011: 6-7).
Setiap anak memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Pengembangan
potensi ini hendaknya dilakukan secara bertahap dan integral dalam setiap usia
sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak, sehingga pada saatnya akan lahir
generasi muda Indonesia, yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, berkepribadian luhur, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif,
inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab.
Berdasarkan pernyataan di atas dapat diambil pemahaman bahwa
pendidikan usia dini sangat penting bagi kehidupan anak bahkan masa depan bangsa.
Oleh sebab itu orang tua perlu memilih sekolah yang dapat membangun dan mengembangkan
potensi dan kecerdasan anak yang lazim dikenal dengan kecerdasan majemuk (Multiple Inteligensi) secara optimal.
B.
PEMBAHASAN
Konsep Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Berbasis Multiple Intelligences
Teori
kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) ditemukan dan dikembangkan
oleh Howard Gardner, seorang ahli psikologi perkembangan dan professor
pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard University,
Amerika Serikat. Ia mulai menuliskan gagasannya tentang inteligensi/kecerdasan
majemuk dalam bukunya berjudul Frames of Mind pada tahun 1983 kemudian
pada tahun 1993 mempublikasikan bukunya yang berjudul Mulptiple
Intelligences, setelah melakukan banyak penelitian dan pengembangan di
dunia pendidikan (Suparno, 2007: 17). Untuk selanjutnya, istilah ini kemudian
dikembangkan menjadi teori melalui penelitian yang rumit, melibatkan
antropologi, psikologi kognitif, psikologi perkembangan, psikometri, studi
biografi, fisiologi hewan, dan neuroanatomi (Armstrong, 1993).
Menurut Howard Gardner kecerdasan merupakan kemampuan untuk
menyelesaikan suatu masalah atau menciptakan produk yang berharga atau bernilai
dalam satu atau lebih latar belakang budaya atau masyarakat tertentu (Gardner,
1993: 7). Menurutnya, setiap anak memiliki kecerdasan majemuk, oleh karena itu
bagi Gardner tidak ada anak yang bodoh atau pintar. Anak bisa menonjol dalam
salah satu atau berbagai kecerdasan (Gardner, 2003: 23). Dengan demikian dalam
menilai dan menstimulasi kecerdasan anak, guru hendaknya senantiasa jeli dan
cermat merancang metode pebelajaran dengan lebih cerrmat.
Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) dari
Gardner menyatakan ada sembilan tipe kecerdasan yaitu: Kecerdasan
logis-matematis, Kecerdasan linguistik-verbal, Kecerdasan spasial-visual,
Kecerdasan musical, Kecerdasan kinestetis-ragawi, Kecerdasan naturalis,
Kecerdasan intrapersonal, Kecerdasan interpersonal, dan Kecerdasan eksistensial.
Biasanya seorang anak memiliki satu atau lebih kecerdasan, tetapi amat jarang
yang memiliki secara sempurna sembilan kecerdasan tersebut. Untuk itu, merujuk
pada teori kecerdasan ini program pendidikan anak usia dini (PAUD) bertujuan
untuk membimbing dan mengembangkan potensi anak agar dapat berkembang secara
optimal sesuai dengan kecerdasannya. Oleh sebab itu, pendidik dalam hal ini
guru harus memahami kebutuhan khusus dan kebutuhan individual anak (Sumiyati,
2014: 17).
Kecerdasan majemuk pada anak diidentifikasi melalui observasi
terhadap perilaku, tindakan, kecenderungan bertindak, kepekaan anak terhadap
sesuatu, kemampuan yang menonjol, reaksi spontan, sikap, dan kesenangan. Salah
satu cara yang baik untuk mengenali kecerdasan yang paling berkembang dari
anak-anak adalah dengan mengamati cara mereka dalam menggunakan waktu luang.
Pada saat jadwal anak tidak diatur secara eksternal oleh orang lain, maka
anak-anak dapat tampil alamiah dan apa adanya. Oleh karena itu, aktifitas
mereka menunjukan cara belajar mereka dan jenis-jenis kecerdasan yang menonjol
pada diri mereka.
Jasmine berpendapat bahwa pembelajaran dengan pendekatan kecerdasan
majemuk pada pendidikan anak usia dini sangat penting terutama untuk mengenali
perbedaan individu anak didik (Yuliani, 2011: 185). Implikasi teori kecerdasan
majemuk dalam pembelajaran adalah bahwa pendidik (baca: guru) perlu mengenali
modalitas kecerdasan yang dimiliki tiap-tiap anak. Sehingga dengan strategi dan
pendekatan yang bervariasi maka diharapkan anak dapat tergali modalitas yang
menjadi gaya dan cara belajar anak sehingga minat dan bakat anak dapat dikenali
sejak dini. Model pembelajaran dapat dipilih sesuai dengan cara dan gaya
belajar anak sehingga anak merasa senang dan nyaman dalam belajar. Hal ini
dapat membantu anak mengenali diri dan kecenderungannya, sehingga modalitas
minat anak dapat berkembang secara optimal. Hal ini dapat pula membantu orang
tua dalam mengarahkan anak khususnya dalam meraih cita-cita anak sesuai
dengan minatnya.
Adapun pengembangan konsep Pendidikan Anak Usia Dini berbasis Multiple
Intelligences menurut Howard Gardner diantaranya:
1.
Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence)
Kecerdasan
Linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik
secara tulisan maupun lisan (Kristanto, 2009: 10). Selain itu kecerdasan ini
juga meliputi kemampuan memanipulasi
struktur bahasa , fonologi, semantik,
pragmatik dan hafalan. Potensi kecerdasan
berbahasa yang dimiliki seorang anak hanya akan tinggal potensi bila tidak
dilatih atau dikembangkan. Untuk itu peran orang tua dan pendidik dalam hal ini
sangat diperlukan. Anak yang tidak diberi kesempatan berbicara atau selalu
dikritik saat mengemukakan pendapatnya akan kehilangan kemampuan dan
ketrampilannya dalam mengungkapkan ide dan perasaannya (Anonimus, 2003: 116).
Menurut Armstrong, kecerdasan linguistik adalah kemampuan menggunakan kata-kata
secara efektif (Armstrong, 2003: 19).
Adapun ciri-ciri anak yang memiliki
Kecerdasan Linguistik diantaranya; pertama; suka menulis kreatif,
kedua; suka mengarang kisah khayalan atau menuturkan lelucon, Ketiga; membaca
di waktu senggang, keempat; mengeja kata dengan tepat dan mudah, kelima;
menyukai pantun lucu dan permainan kata,
keenam; suka mengisi teka-teki silang, ketujuh; menikmati dengan
cara mendengarkan, kedelapan; memiliki kosa kata yang luas, kesembilan;
unggul dalam mata pelajaran bahasa (membaca, menulis dan berkomunikasi).
Cara menstimulasi; membacakan anak cerita, mendengarkan anak
bercerita, menulis, mengajak diskusi, membuat daftar, bermain tebak kata atau
menyusun huruf, Berdiskusi dan bercakap-cakap, Memperdengarkan lagu anak-anak,
dll.
Kecerdasan Kecerdasan Linguistik anak usia dini dapat
diketahui melalui kegiatan:
a.
Mengobservasi
kemauan dan kemampuan berbicara. Anak yang cerdas dalam kecerdasan linguistik
banyak bicara, suka bercerita, pandai melucu dengan kata-kata.
b.
Mengamati
kegiatan di kelas dan mengamati bagaimana anak-anak bermain dengan huruf-huruf,
seperti mencocok huruf, menukarkan huruf, menebak kata-kata, dan kegiatan
bermain lain yang melibatkan bahasa, baik lisan maupun tulis.
c.
Mengamati
kesenangan mereka terhadap buku serta kemampuan mereka membaca dan menulis.
2.
Kecerdasan Matematis-Logis (Logical-Mathematical Intelligence)
Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan berpikir secara
konseptual. Biasanya individu dengan kemampuan berpikir yang baik, suka
mengeksplorasi pola, kategori dan hubungan, juga menyukai puzzle atau sesuatu
yang membutuhkan nalar (Noorlaila, 2010: 95). Kecerdasan logis-matematis
melibatkan keterampilan mengolah angka dan atau kemahiran menggunakan logika
atau akal sehat. Ini adalah kecerdasan yang digunakan ilmuwan ketika
menciptakan hipotesis dan dengan tekun mengujinya dengan data eksperimental.
Hal ini merupakan kecerdasan yang digunakan akuntan pajak, scientist,
programmer komputer, dan ahli matematika. Termasuk dalam kecerdasan tersebut
adalah kepekaan pada pola logika, abstraksi, kategorisasi, dan perhitungan
(Munif Chatib dan Alamsyah Said, 2011: 86).
Anak dengan kecerdasan ini memiliki ciri antara lain: pertama;
menghitung masalah aritmetika dengan
cepat di luar kepala, kedgua; menikmati penggunaan bahasa computer, ketiga;
suka mengajukan pertanyaan yang bersifat analisis , misalnya mengapa hujan turun?, keempat; ahli dalam permainan
strategi seperti catur, halma dan
sebagainya, kelima; mampu menjelaskan masalah secara logis, keenam;
suka merancang eksperimen untuk pembuktian sesuatu, ketujuh; menghabiskan
waktu dengan permainan logika, seperti teka-teki, kedelapan; mudah
memahami hukum sebab akibat, berprestasi dalam pelajaran Matematika dan IPA
(Fisika).
Cara menstimulasi: ajak anak menghitung benda-benda di dalam
ruangan, bermain ular tangga, melakukan uji coba seperti mencampur biang
es (dry ice) dengan air.
Informasi mengenai kecerdasan logis-matematis anak-anak dapat diperoleh
melalui observasi terhadap:
a.
Kesenangan
mereka terhadap angka-angka, mampu membaca angka, dan berhitung. Anak yang
cerdas dalam logis-matematis cepat dan efektif dalam menjumlah, mengurangi, dan
membaca simbol angka.
b.
Kemahiran
mereka berpikir dan menggunakan logika. Anak yang cerdas logis-matematis mampu
memecahkan masalah secara logis, cepat memahami permasalahan, mampu menelusuri
sebab dan akibat suatu masalah.
c.
Kesukaan
mereka bertanya dan selalu ingin tahu.
d.
Kecenderungan
mereka untuk memanipulasi lingkungan dan menggunakan strategi coba-ralat, serta
menduga-duga dan mengujinya.
e.
Kecenderungan
mereka untuk bermain konstruktif, bermain dengan polapola, permainan strategi,
menikmati permainan dengan komputer atau kalkulator.
f.
Kecenderungan
untuk menyusun sesuatu dalam kategori atau hierarki seperti urutan besar ke
kecil, panjang ke pendek, dan mengklasifikasi benda-benda yang memiliki sifat
sama.
3.
Kecerdasan Visual-Spasial (Spatial Intelligence)
Menurut Gardner, kecerdasan Visual-Spasial adalah kemampuan
untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat, seperti dipunyai para pemburu,
arsitek, navigator, dan dekorator, juga kemampuan untuk mengenal bentuk dan
benda secara tepat, menggambarkan suatu benda/hal dalam pikiran kemudian ke
dalam bentuk nyata, dan dapat mengungkapkan data dalam suatu grafik (Suparno, 2004:
31). Kecerdasan ini memiliki kemampuan dalam memvisualisasikan apa yang ada di
benaknya lewat gambar, susunan balok, mampu menerjemahkan gambaran dalam
pikirannya ke dalam bentuk dua atau tiga dimensi, juga memahami tata letak,
arah, dan posisi yang baik (Noorlaila, 2010: 96). Orang yang memiliki
kecerdasan ini cenderung berpikir dalam atau dengan gambar dan cenderung mudah
belajar melalui sajian-sajian visual seperti film, gambar, video dan peragaan
yang menggunakan model dan slide (Jasmine, 2007: 21).
Ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan ini adalah; pertama;
memberikan gambaran visual yang jelas ketika menggambarkan sesuatu, kedua;
mudah membaca peta, grafik dan diagram, ketiga; menggambar sosok benda
atau orang persis aslinya, senang
melihat film, slide, foto-foto atau karya seni lainnya, keempat; sangat
menikmati kegiatan visual, seperti
teka-teki atau sejenisnya, kelima; suka melamun dan berfantasi, keenam; suka membangun
konstruksi tiga dimensi, ketujuh; mencoret-coret di atas kertas
atau di buku sekolah.
Cara menstimulasi: menggambar dan mewarnai, bermain
konstruksi, menyusun puzzle, melukis, menempel stiker bergambar.
Informasi mengenai kecerdasan visual-spasial pada anak-anak dapat
diperoleh melalui observasi terhadap:
a.
Kemampuan
menangkap warna serta mampu memadukan warna-warna saat mewarnai, dan
mendekorasi.
b.
Kesenangan
mereka mencoret-coret, menggambar, berkhayal, membuat desain sederhana.
c.
Kemampuan
anak dalam memahami arah dan bentuk.
d.
Kemampuan
anak mencipta suatu bentuk, seperti bentuk pesawat terbang, rumah, mobil,
burung, atau bentuk lain yang mengesankan adanya unsur transformasi bentuk yang
rumit.
4.
Kecerdasan Musikal (Musical Intelligence)
Menurut Gardner kecerdasan musikal ini adalah kemampuan untuk
mendengarkan, mengekspresikan, dan menikmati bentuk-bentuk musik dan suara,
juga peka terhadap ritme, melodi dan intonasi, kemampuan: memainkan alat musik,
menyanyi, mencipta lagu, dan untuk menikmati lagu, musik dan nyayian (Suparno,
2004: 36-37). Kecerdasan musikal yaitu kemampuan menangani bentuk-bentuk
musikal, dengan cara mempersepsi (penikmat musik), membedakan (kritikus musik),
mengubah (komposer), mengekspresikan (menyanyi), kecerdasan ini meliputi
kepekaan pada irama, pola titi nada pada melodi, dan warna nada atau warna
suara suatu lagu (Kemendiknas, 2010: 15).
Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada irama maupun pola melodi, dan
warna nada atau warna suara suatu lagu. Seorang anak yang memiliki kecerdasan
musik biasanya memiliki ciri-ciri diantaranya: pertama; senang
bernyanyi, kedua; senang mendengarkan musik, ketiga; senang
belajar jika diiringi irama, keempat; peka terhadap suara, kelima;
senang membuat suara-suara musikal dengan tubuhnya (bersenandung, bertepuk
tangan, atau menghentakkan kaki), keenam; mudah mengenali banyak lagu
yang berbeda-beda yang dimainkan bersama-sama, ketujuh; bernyanyi sambil
berpikir atau mengerjakan tugas, mudah menangkap irama dalam suara-suara
sekelilingnya.
Cara menstimulasi: Memberi kesempatan pada anak untuk
memainkan alat musik dan bernyanyi, mengembangkan pemahaman anak tenatng music,
memberikan stimulus-stimulus ringan pada anak agar lebih termotivasi pada
bidang music, memberikan pengalaman empiris yang praktis, seperti
memberikan penghargaan terhadap karya anak, misalnya membuat pentas seni.
Informasi mengenai kecerdasan musikal pada anak-anak usia dini dapat
diperoleh melalui observasi terhadap:
a.
Kesenangan
dan kemampuan mereka menyanyi dan menghafal lagu-lagu, bersiul, bersenandung,
dan mengetuk-ngetuk benda untuk membuat bunyi berirama;
b.
Kepekaan
dan kemampuan mereka menangkap nada-nada, irama, dan kemampuan menyesuaikan
suara dengan nada yang mengiringi.
c.
Kecenderungan
musikal saat anak berbicara dan kemerduan suara mereka pada saat menyanyi.
d.
Kesenangan
dan kemampuan mereka memainkan alat music.
e.
Kemampuan
mereka mengenali berbagai jenis suara di sekitarnya, mulai dari suara manusia,
mesin, hewan, dan suara-suara khas lainnya.
5.
Kecerdasan Kinestetik-Jasmani (Bodily-Kinesthetic Intelligence)
Kecerdasan kinestetik-jasmani adalah kemampuan dalam menggunakan
tubuh secara terampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran, dan perasaan.
Kecerdasan ini meliputi keterampilan fisik dalam bidang koordinasi,
keseimbangan, daya tahan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan (Kristanto, 2009:
57).
Anak yang memiliki kecerdasan keniestetik mampu memahami sesuatu
yang berkaitan dengan gerak tubuh (baca: badan) sebelum dia memperoleh latihan
secara formal, atau bisa memahami dan melakukan gerakan dengan tepat hanya
dengan latihan yang relatif singkat.
Anak dengan kecerdasan gerak tubuh cenderung suka bergerak dan
aktif, mudah dan cepat mempelajari keterampilan-keterampilan fisik serta suka
bergerak sambil berpikir, mereka juga senang berakting, senang meniru
gerak-gerik atau ekspresi teman-temannya, senang berolahraga, terampil membuat
suatu kerajinan, senang menggunakan gerakan-gerakan untuk membantunya mengingat
berbagai hal (Armstrong, 2003: 12).
Anak dengan Kecerdasan ini memiliki ciri-ciri antara lain: pertama;
banyak bergerak ketika duduk atau mendengarkan sesuatu, kedua; aktif
dalam kegiatan fisik (berenang, bersepeda, hiking atau skateboard), ketiga;
perlu menyentuh sesuatu yang sedang dipelajarinya, keempat; menikmati
kegiatan (melompat, lari, gulat) atau kegiatan fisik lainnya, kelima;
memperlihatkan keterampilan dalam bidang kerajinan tangan (mengukir, menjahit,
memahat), keenam; pandai menirukan gerakan, kebiasaan atau prilaku orang
lain, ketujuh; bereaksi secara fisik terhadap jawaban masalah yang
dihadapinya, kedelapan; suka membongkar berbagai benda kemudian
menyusunnya lagi, kesembilan; berprestasi dalam mata pelajaran olahraga
dan yang bersifat kompetitif.
Cara menstimulasi: ajak si kecil untuk ikut jalan santai, menonton
kegiatan teater, les berenang atau menari, aktifitas di taman bermain atau
menonton pertandingan olahraga.
Informasi mengenai kecerdasan kinestetik pada anak-anak usia dini sangat
mudah diperoleh. Indikator kecerdasan ini dapat diperoleh melalui observasi
terhadap:
a.
Frekuensi
gerak anak yang tinggi serta kekuatan dan kelincahan tubuh.
b.
Kemampuan
koordinasi mata-tangan dan mata-kaki, seperti menggambar, menulis, memanipulasi
objek, menaksir secara visual, melempar, menendang, menangkap.
c.
Kemampuan,
keluwesan, dan kelenturan gerak lokomotor, seperti berjalan, berlari, melompat,
berbaris, meloncat, mencongklak, merayap, berguling, dan merangkak, serta
keterampilan nonlokomotor yang baik, seperti membungkuk, menjangkau, memutar
tubuh, merentang, mengayun, jongkok, duduk, berdiri.
d.
Kemampuan
mereka mengontrol dan mengatur tubuh seperti menunjukkan kesadaran tubuh,
kesadaran ruang, kesadaran ritmik, keseimbangan, kemampuan untuk mengambil
start, kemampuan menghentikan gerak, dan mengubah arah.
e.
Kecenderungan
memegang, menyentuh, memanipulasi, bergerak untuk belajar tentang sesuatu serta
kesenangannya meniru gerakan orang lain.
6.
Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence)
Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan
berinteraksi secara efektif dengan orang lain, dengan membedakan dan menanggapi
suasana hatimemiliki ciri antara lain, perangai motivasi dan hasrat orang lain
dengan tepat. Menurut Anna Craft, kecerdasan ini adalah kemampuan untuk
memahami dan berhubungan dengan orang lain (Craf, 2000: 15). Jika seseorang
memiliki kecerdasan dalam memahami sesama biasanya ia suka mengamati sesama,
mudah berteman suka menawarkan bantuan ketika seseorang membutuhkan, menikmati
kegiatan-kegiatan kelompok serta percakapan yang hangat dan menyenangkan,
senang membantu sesama yang sedang bertikai agar berdamai, percaya diri ketika
bertemu dengan orang baru, mengetahui bagaimana cara membuat sesamanya
bersemangat untuk bekerjasama, mementingkan soal keadilan serta benar-salah dan
senang bersukarela untuk menolong sesama.
Ciri-ciri anak usia dini yang memiliki kecerdasan ini diantaranya: pertama;
mempunyai banyak teman di sekolah maupun di lingkungannya, kedua; suka
bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggalnya, ketiga;
banyak terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah, keempat;
berperan sebagai penengah ketika terjadi konflik antartemannya, kelima;
berempati besar terhadap perasaan atau penderitaan orang lain, keenam;
sangat menikmati pekerjaan mengajari orang lain, ketujuh; berbakat
menjadi pemimpin dan berperestasi dalam mata pelajaran ilmu sosial.
Cara menstimulasi: mengajak anak untuk bergabung dalam kelompok
bermain atau bekerja, melatih anak untuk terbiasa dengan komunitas sosial,
menceritakan perasaan atau peristiwa yang kita alami kepada anak, memberikan
kesempatan pada anak untuk menggambarkan diri sendiri dari sudut pandang anak
pandanglah ekspresinya ketika kita menceritakan apa yang kita rasakan, dan
mengajak berimajinasi menjadi salah satu tokoh dalam cerita.
Tanda utama kecerdasan interpersonal sangat mudah diidentifikasi.
Anak yang memiliki kecerdasan interpersonal sangat menyenangkan bagi teman
sebayanya. Indikator kecerdasan interpersonal dapat diketahui melalui observasi
terhadap:
a.
Kepekaan
anak terhadap perasaan, kebutuhan, dan peristiwa yang dialami teman sebayanya.
Kepekaan ini mendorong anak memberikan perhatian yang tinggi pada anak lain,
senang membantu teman lain.
b.
Kemampuan
anak mengorganisasi teman-teman sebayanya. Kemampuan ini mendorong anak
menggerakkan teman-temannya untuk tujuan bersama, dan cenderung memimpin.
c.
Kemampuan
anak memotivasi dan mendorong orang lain untuk bertindak. Hal ini disebabkan
oleh kemampuan mereka mengenali dan membaca pikiran orang lain, dan karenanya
anak dapat mengambil sikap yang tepat.
d.
Sikap
yang ramah, senang menjalin kontak, menerima teman baru, dan cepat
bersosialisasi di lingkungan baru. Hal ini disebabkan oleh dorongan anak untuk
selalu bersama orang lain dan menjalin komunikasi dengan sesame.
e.
Kecenderungan
anak untuk bekerja sama dengan orang lain, saling membantu, berbagi, dan mau
mengalah.
f.
Kemampuan
untuk menengahi konflik yang terjadi di antara teman sebayanya, menyelaraskan
perasaan teman-teman yang bertikai, dan kemampuan memberikan usulan-usulan
perdamaian.
7.
Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence)
Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan seseorang (anak) didalam mengenali
dan memahami diri sendiri, serta mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya,
suasana hatinya, temperamennya, keinginan dan motivasi dirinya (Narwanti, 2011:
67). Anak-anak yang memiliki kecerdasan ini biasanya menyimpan catatan-catatan
dan hasil kerja mereka dengan baik dan menikmati kesunyian, bahkan
menyelesaikan waktu dan tempat untuk diri sendiri. Mereka menyadari akan
emosinya sendiri sehingga mampu mengungkapkan perasaan mereka dengan baik.
Mereka sadar betul akan siapa dirinya dan ia sangat senang memikirkan masa
depan dan cita-citanya di suatu hari nanti (Armstrong, 2003: 12).
Anak usia dini yang memiliki kecerdasan ini dapat ditandai dengan
beberapa hal sebagai berikut: pertama; memperlihatkan sikap independen
dan kemauan kuat, kedua; Bersikap realistis terhadap kekuatan dan kelemahannya, ketiga; memberikan
reaksi keras terhadap topik topik kontroversial dengan dirinya, keempat;
bekerja atau belajar dengan baik seorang diri, kelima; memiliki rasa
percaya diri yang tinggi, keenam; banyak belajar dari kesalahan masa
lalu, ketujuh; berpikir fokus dan terarah pada pencapaian tujuan, kedelapan;
banyak terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan sendiri.
Cara menstimulasi: mendorong anak untuk menceritakan kegiatan
yang terjadi di sekolah dan bagaimana ia mengatasinya, menanyakan apa keinginan
dan cita-citanya.
Anak-anak usia dini yang cerdas intrapersonal sering tampak sebagai
sosok anak yang pendiam dan mandiri. Kecerdasan intrapersonal anak dapat
diketahui melalui observasi yang cukup cermat terhadap:
a.
Kecenderungan
anak untuk diam (pendiam), tetapi mampu melaksanakan tugas dengan baik, cermat.
b.
Sikap
dan kemauan yang kuat, tidak mudah putus asa, kadang-kadang terlihat keras.
c.
Sikap
percaya diri, tidak takut tantangan, tidak pemalu.
d.
Kecenderungan
anak untuk bekerja sendiri, mandiri, senang melaksanakan Kegiatan seorang diri,
tidak suka diganggu.
e.
Kemampuan
mengekspresikan perasaan dan keinginan diri dengan baik;
8.
Kecerdasan Lingkungan (Naturalist Intelligence)
Kecerdasan naturalis adalah kecerdasan yang suka terhadap hal-hal
yang berbau alam yaitu kemampuan mengembangkan pengamatan, kritis terhadap
fenomena alam (Narwanti, 2011: 69). Howard Gardner menjelaskan kecerdasan
lingkungan sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali tanaman, hewan dan
bagian lain dari alam semesta. Di dalam keterangan diatas Gardner menyatakan
bahwa kecerdasan naturalis melibatkan kapasitas untuk mengklasifikasikan dan
memahami kehidupan dari makhluk hidup flora dan fauna.
Setiap anak memiliki kecenderungan kecerdasan naturalis lebih baik
daripada orang dewasa, karena anak pada umumnya dapat menikmati lingkungan alam
secara mendalam dan tidak menganggap lingkungan sekitarnya hanyalah latar
belakang dari setiap peristiwa yang ia alami. Para ahli sepakat bahwa
kecerdasan dapat berubah, tetapi perubahan kecerdasan sangat dipengaruhi oleh
waktu dan akan semakin terasah apabila anak tersebut tetap tinggal di
lingkungan yang terus menerus memberinya rangsangan.
Anak-anak usia dini yang memiliki kecerdasan ini ciri-cirinya
antara lain: pertama; suka dan akrab pada berbagai hewan peliharaan, kedua;
sangat menikmati berjalan-jalan di alam terbuka, ketiga; suka berkebun
atau dekat dengan taman dan memelihara binatang, keempat; menghabiskan
waktu di dekat akuarium atau sistem kehidupan alam, kelima; suka membawa
pulang serangga, daun bunga atau benda alam lainnya, keenam; berprestasi dalam
mata pelajaran IPA, Biologi, dan lingkungan hidup.
Cara menstimulasi: mengajak anak ke tempat wisata edukasi yang
melibatkan interaksi dengan alam seperti memberi pakan ternak, memandikan hewan
peliharaan, membajak sawah, memetik sayur dan buah, melihat pegunungan dan sebagainya.
Anak-anak usia dini yang memiliki kecenderungan dalam kecerdasan
ini tampak sebagai penyayang binatang dan tumbuhan, serta peka terhadap alam.
Kecerdasan mereka dapat diidentifikasi melalui observasi terhadap:
a.
Kesenangan
mereka terhadap tumbuhan, bunga-bungaan, dan kecenderungan untuk Merawat tanaman,
tampak “seolah-olah berbicara” dengan tumbuhan.
b.
Sikap
mereka yang sayang terhadap hewan piaraan (membelai, memberi makan-minum,
mengoleksi binatang atau gambar atau miniatur).
c.
Kemampuan
mereka dalam mengenal dan menghafal nama-nama/jenis binatang dan tumbuhan.
Mereka hafal nama-nama ikan, nama-nama burung, dan mengenali tumbuhan.
d.
Kesukaan
anak melihat gambar binatang dan hewan, serta sering mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Apabila sudah dapat membaca, anak sering
memilih bacaan tentang hewan atau tumbuhan untuk dibaca.
e.
Kepekaan
terhadap bentuk, tekstur, dan ciri lain dari unsur alam, seperti daun-daunan, bunga-bungaan,
awan, batu-batuan.
f.
Kesenangan
terhadap alam, menyukai kegiatan di alam terbuka, seperti pantai, tanah lapang,
kebun, sungai, sawah, dan dalam alam terbatas menghabiskan waktu di dekat
kolam, dekat aquarium.
9.
Kecerdasan Eksistensial (Existential Intelligence)
Kecerdasan eksistensial (exsistensialist intelligence) adalah
kemampuan untuk menempatkan diri dalam jagat raya yang luas, jauh tak terhingga
dan menghubungkannya dengan kehidupan selanjutnya (kematian). Kecerdasan
ini melibatkan kemampuan manusia dalam menjawab berbagai macam persoalan
terdalam tentang eksistensi atau keberadaan manusia. Mereka mampu
menyadari dan menghayati dengan benar keberadaan dirinya di dunia ini dan apa
tujuan hidupnya. Melalui kontemplasi dan refleksi diri kecerdasan ini dapat
berkembang. Kecerdasan eksistensial dirumuskan Gardner sebagai kecerdasan yang
menaruh perhatian pada masalah hidup yang paling utama. Gardner memberikan
definisi kecerdasan eksistensialis sebagai kesiapan manusia dalam menghadapi
kematian, menempatkan diri dalam ciri manusia yang paling eksistensial, makna
hidup, makna kematian.
Ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan ini, diantaranya: pertama;
mempertanyakan hakekat segala sesuatu, kedua; mempertanyakan keberadaan
peran diri sendiri di alam/ dunia, ketiga; kalau bermain sering bicara dengan diri
sendiri, keempat; lebih tenang
dan menguasai diri, kelima; lebih cenderung mengutamakan kepentingan
keyakinan atau agama, keenam; mampu menempatkan diri disetiap situasi dan
lingkungan.
Cara menstimulasi: mengajarkan anak bersyukur atas peristiwa setiap
hari, atas keluarga, teman dan benda-benda yang dimiliki, berdoa, mengunjungi
yayasan sosial, menumbuhkan kepekaan dan empati terhadap sesama.
Anak-anak usia dini yang memiliki kecenderungan eksistensial dapat
diidentifikasi melalui observasi terhadap:
a.
Kecenderungan
anak untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hakikat sesuatu,
tujuan sesuatu, dan manfaat sesuatu.
b.
Kepekaan
anak untuk merasakan keberadaan diri dan sesuatu sebagai bagian dari komposisi
yang lebih besar.
c.
Kemampuan
anak untuk menjabarkan penilaian dan reaksi tentang sesuatu. Anak mampu menjawab
pertanyaan-pertanyaan pendidik tentang berbagai hal yang dirasakan, diimpikan,
dan dipikirkannya.
d.
Reaksi
anak yang relatif terkendali terhadap peristiwa yang dialaminya,
e.
Belajar
mengambil hikmah dari suatu peristiwa.
f.
Keberanian
anak untuk menerima sesuatu yang dirasakannya benar, memperjuangkan keyakinan
dan rasa keadilan.
C. KESIMPULAN
Bahwa setiap anak mempunyai inteligensi atau
kecerdasan yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Kecerdasan anak berbeda-beda dikembangkan pula kecerdasan majemuk atau multiple
intelegensi yang dikembangkan oleh Gardner.
Sebagian pendidik, meskipun sebenarnya
mempunyai kesadaran yang besar dalam pendidikan, menganggap semua individu bias
dinilai dengan menggunakan satu takaran seberapa pandai atau bodohnya mereka. Dengan
adanya teori kecerdasan majemuk, seorang pendidik harus tahu dan dapat
mengindentifikasi sedini mungkin dari kesembilan kecerdasan yang disebutkan
diatas. Dengan mengetahuinya, pendidik dapat mengoptimalkan kecerdasan anak
sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya.
DAFTAR PUSTAKA
ada pada penulis...