Selamat Datang di Situs Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al Quran Al Ittifaqiah Indralaya Prodi PGRA

Friday, April 7, 2017

Skripsi PENERAPAN CTL DALAM PEMBELAJARAN AL-QUR’AN HADIST DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS II IPA

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
            Fenomena empirik menunjukkan bahwa pada saat ini terdapat banyak kasus kenakalan dikalangan pelajar. Isu perkelahian antar pelajar, tindakan kriminal, premanisme, konsumsi miras, etika berlalu lintas yang setiap hari semakin meningkat dan semakin kompleks, telah mewarnai halaman surat kabar dan media massa. Timbulnya kasus-kasus tersebut memang bukanlah semata-mata karena kegagalan kurikulum pendidikan agama Islam di sekolah, tetapi bagaimana semua itu dapat digerakkan oleh guru agama untuk mencermati kembali dan mencari solusi lewat pengembangan metodologi pendidikan agama agar tidak berjalan secara konvensional tradisional sebagaimana selama ini berlangsung di sekolah-sekolah.
            Inilah salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan pendidikan, antara lain dengan melakukan pelatihan-pelatihan dan peningkatan profesionalitas guru, penyempurnaan kurikulum, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan serta peningkatan mutu manajamen sekolah. Namun demikian indikator keberhasilan belum menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.
            Begitu juga banyak berbagai kritikan terhadap pelaksanaan pendidikan agama yang sedang berlangsung di sekolah, bahwa pendidikan agama Islam di sekolah lebih bersifat verbalistik dan formalistik.  Metodologi pendidikan agama tidak juga berubah sejak dulu hingga sekarang. Pendekatan agama cenderung normatif tanpa adanya ilustrasi konteks sosial budaya, sehingga siswa kurang bisa menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai yang hidup dalam kehidupan keseharian. Sistem evaluasi, bentuk soal-soal ujian, agama Islam lebih menunjukkan prioritas pada kognitif, dan jarang pertanyaannya yang mempunyai bobot nilai dan makna spritual keagamaan yang fungsional.

            Dalam kehidupan sehari-hari proses pembelajaran bersifat memaksakan target bahan ajar, bukan pada pencapaian dan penguasaan kompetensi. Seperti yang dikatakan oleh Husni Rahim yang dikutip Abdul Majid menyatakan bahwa penyampaian materi akhlak di sekolah oleh guru diberikan kepada siswa sebatas teori.[1] Muhtar Bukhari dalam bukunya Muhaimin juga menilai kegagalan pendidikan di sekolah disebabkan praktik pendidikannya hanya memperhatikan aspek kognitif semata dari pada pertumbuhan kesadaran nilai-nilai agama, dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan kognitif  volatif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama .[2]
Dalam kata lain pendidikan agama lebih berorentasi pada belajar tentang agama, dan kurang berorentasi tentang bagaimana cara belajar yang benar, akibatnya terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan pengalaman, antara agnosis dan praxis dalam kehidupan sehari-hari. Atau dalam praktek pendidikan agama berubah menjadi pengajaran agama, sehingga tidak mampu membentuk pribadi- pribadi Islam.[3]
Pernyataan senada juga dinyatakan oleh harun Nasution bahwa pendidikan agama dipengaruhi oleh trend barat, yang lebih mengutamakan pengajaran dari pada pendidikan moral, padahal intisari dari pendidikan agama adalah pendidikan moral.[4] Towaf juga telah mengamati adanya kelemahan pendidikan agama Islam di sekolah (dalam bukunya Muhaimin), yang antara lain: (1) Pendekatan masih cenderung normatif, dalam arti pendidikan agama menyajikan norma-norma yang sering kali tanpa ilustrasi konteks sosial budaya sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai yang hidup keseharian, (2) Kurikulum agama Islam yang dirancang di sekolah sebenarnya lebih menawarkan minimum kompetensi atau minimum informasi, tetapi pihak GPAI seringkali terpadu padanya,
 sehingga semangat untuk memperkaya kurikulum dengan pengalaman belajar yang bervariasi kurang tumbuh, (3) sebagai dampak yang menyertai situasi tersebut diatas, maka GPAI harus berupaya menggali metode yang mungkin bisa dipakai untuk pendidikan agama sehingga pelaksanaa pembelajarannya cenderung monoton,(4) Keterbatasan sarana-prasarana, mengakibatkan pengelolahan cenderung seadanya pendidikan agama yang diklaim sebagai aspek yang penting, seringkali kurang diberi prioritas dalam urusan fasilitas.[5]
Berbagai macam tantangan pendidikan agama Islam tersebut sebenarnya dihadapi oleh semua pihak, baik keluarga, pemerintah, maupun masyarakat, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan Pendidikan Agama Islam.       Namun demikian GPAI di sekolah yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan agama Islam dituntut untuk mampu menjawab dan mengantisipasi berbagai macam tantangan tersebut. Guru harus mampu mengubah paradigma tentang proses pembelajaran yang hanya berfokus pada aspek kognitif (pencapaian target bahan ajar) dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, menyentuh aspek emosional (afektif), dan psikomotorik yang tidak lain untuk mengantisipasi diperlukan strategi pembelajaran yang bisa membuat siswa “menemukan sendiri” hakikat belajar.
            Persoalannya sekarang adalah (1) Bagaimana menemukan cara yang baik untuk menyampaikan bermacam konsep yang diajarkan dalam mata pelajaran, sehingga semua siswa dapat menggunakan dan mengingat lebih lama konsep-konsep tersebut, (2) Bagaimana setiap mata pelajaran dipahami sebagai bagamana yang saling berhubungan dan membentuk suatu pemahaman yang utuh, (3) Bagaimana seorang guru dapat berkomunikasi secara efektif dengan siswanya yang selalu bertanya-tanya tentang sesuatu, arti sesuatu, dan hubungan dari apa yang mereka pelajari, (4) Bagaimana seorang guru dapat membuka wawasan berpikir yang beragama dari seluruh siswa, sehingga mereka dapat mempelajari berbagai konsep dan bagaimana mengaitkannya dengan kehidupan nyata, sehingga dapat membuka berbagai pintu kesempatan selama hidupnya.
Persoalan-persoalan di atas merupakan tantangan yang dihadapi oleh guru setiap hari dan tantangan bagi pengembang kurikulum. Untuk mengatasi tantangan tersebut, pendidikan adalah satu-satunya solusi yang paling tepat. Menurut John Dewey seorang pakar pendidikan berpendapat bahwa sekolah adalah miniature masyarakat, maka sudah selayaknya anak didik belajar mengenai tata cara bermasyarakat dalam konteks yang sesungguhnya semasa masih sekolah.[6] Pendekatan Kontekstual CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga masyarakat. Dengan konsep ini hasil pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kesiswaan, strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil. Dalam konteks itu siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya.[7]
Dalam pembelajaran Contekstual Teaching and Learning (CTL), tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih condong mengatur strategi dari pada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah team yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa.
Dan sesuatu yang baru (pengetahuan dan ketrampilan) datang dari menemukan sendiri bukan dari guru atau pemberian guru. Oleh karena itu dengan adanya pembaharuan kurikulum yang sekarang ini kita kenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Dimana kurikulum ini masih mempunyai terapan yang diberi nama CTL atau Contekstual Teaching and Learning yang sekarang merupakan fenomena yang banyak dibicarakan oleh kalangan para pendidik, yang lain tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Dalampembelajaran kontekstual siswa didorong untuk mengkonstruksikan pengetahuan dalam pikiran mereka, siswa belajar dari mengalami sendiri bukan dari pemberian orang lain. Pendekatan kontekstual sebagai pilihan untuk menghidupkan kelas agar siswa belajar dengan sesungguhnya belajar tanpa adanya samar-samar untuk menggali ilmu pengetahuan, sehingga akan terwujudnya cita-cita bangsa, dan negara RI.



[1] xxxx

No comments:

Iklan oleh Google