PENDAHULUAN
Pendidikan ibarat industri yang perlu dikelola
komponennya secara efisien dan profesional, agar menghasilkan komoditi yang
bermutu tinggi serta dapat dipasarkan. Salah satu persyaratan pendidikan adalah
adanya system manajemen yang profesional.
Sekolah
adalah salah satu organisasi pendidikan yang mempunyai suatu kekuatan untuk
membantu dan mengantarkan peserta didik untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan
meraih cita-cita. Sekolah yang diharapkan oleh masyarakat adalah sekolah yang
mampu mencetak peserta didik yang berprestasi dengan tenaga pengajar yang
kreatif dan profesional.
Dalam dunia
pendidikan manajemen mutlak diperlukan, manajemen diakui sebagai salah satu
komponen terpenting dalam sebuah lembaga pendidikan, diantaranya disebabkan
oleh kualitas manajemen yang dikembangkan. Peranan manajemen demikian besar
dalam menentukan perkembangan sebuah lembaga pendidikan.
Sebagaimana
dikutip oleh Mulyasa dalam bukunya, dari pendapat Ghaffar (1989) bahwa
manajemen pendidikan mengandung arti sebuah preses kerja sama yang sistematik,
sistemik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Manajemen juga diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan
pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan baik
tujuan jangka pendek, panjang, menengah maupun tujuan jangka panjang.[1]
Secara
sederhana manajemen pendidikan itu dirumuskan sebagai mobilisasi segala sumber
daya pendidikan, manajemen disini menyangkut efisiensi dalam pemanfaatan sumber
yang ada. Masih lemahnya manajemen pendidikan, menunjukkan pendidikan nasional
khususnya pendidikan agama Islam bukan hanya membutuhkan pengetahuan dan
pengalaman manajemen pendidikan Islam. Secara sistematis yang dikembangkan dan
diterapkan dalam situasi dan kondisi ekonomi yang beragam.[2]
Robert Kritiner mendefinisikan
manajemen sebagai suatu proses kerja melalui orang lain untuk mencapai
tujuan organisasi dalam lingkungan yang berubah. Proses ini berpusat pada
penggunaan yang efektif dan efisien
terhadap penggunaan sumberdaya manusia.[3]
Pendapat
tersebut jelas bahwa manajemen di suatu lembaga sangat berperan penting
terutama manajemen humas, karena bagaimanapun suatu lembaga tidak akan
berkembang dengan baik tanpa adanya hubungan yang baik dengan masyarakat, akan
tetapi yang terjadi pada saat ini banyak lembaga yang tidak menjalankan
manajemen dengan baik, sehingga hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan apa
yang diharapkan, keadaan seperti ini yang mengakibatkan suatu sekolah
tertinggal dari sekolah yang lain dan terbelakang.
Manajemen
humas merupakan salah satu sarana yang harus ada di dalam suatu lembaga, saat
ini banyak sekolah yang bisa berkembang dengan pesat karena manajemen yang
sangat bagus. Karena kita tahu bahwa untuk mengenalkan lembaga kepada dunia
luas dari segi kualitas bukanlah perkara mudah, oleh karena itu membutuhkan
orang-orang yang profesional.
Dalam
Undang-Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 pasal 54 dijelaskan bahwa
Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan,
kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi
kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan
pendidikan.[4]
Dari
penjelasan diatas dapat dipahami bahwa lembaga dan masyarakat sangat
berkaitan untuk pengembangan dan
kemajuan lembaga itu sendiri, dimana dari pihak lembaga itu sendiri berusaha
mengatur hubungan tersebut dengan baik sehingga dapat bekerja sama dengan baik
pula.
Moh Noor Syam, dalam bukunya Filsafat Pendidikan dan Dasar
Filsafat Pendidikan Pancasila, mengemukakan bahwa hubungan masyarakat
dengan pendidikan sangat korelatif, bahkan seperti telur dengan ayam.
Masyarakat maju karena pendidikan, dan pendidikan yang maju akan ditemukan
dalam masyarakat yang maju pula.[5]
Sejalan dengan konsep di atas pemerintah
menyerukan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah,
orang tua, dan masyarakat. Kaufan berpendapat (1972: 30) bahwa patner
pendidikan tidak terdiri dari tiga kelompok di atas, melainkan terdiri dari
para guru, para siswa, dan para orang tua atau masyarakat.[6]
Kaufan berpendapat demikian bahwa
pemerintah sudah diwakili oleh para guru atau mungkin ia menekankan agar
sekolah-sekolah bersifat desentralisasi sehingga tidak perlu banyak dicampuri
oleh pmerintah. Apapun alasannya, yang jelas orang tua atau masyarakat sebagai
salah satu patner pendidikan.
Pengembangan lembaga pendidikan bukanlah
pekerjaan yang mudah karena dalam upaya pengembangan tersebut memerlukan
perencanaan secara terpadu dan menyeluruh. Terkait dengan fungsi pendidikan
sebagai salah satu tempat pertemuan masyarakat dalam upaya mempertahankan,
mempelajari, dan meningkatkan social budaya masyarakat. Maka hubungan antara
lembaga pendidikan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan.
Suatu lembaga pendidikan dalam menjalin
hubungan dengan masyarakat membutuhkan seseorang yang dapat berkomunikasi
dengan baik, karena semua itu menyangkut kepentingan lembaga, masyarakat dan
peserta didik, maka dari itu dibutuhkannya manajemen humas. Begitu juga yang
dilakukan Sekolah Dasar Insan Terpadu, dalam kegiatan di Sekolah maupun di luar
Sekolah manajemen humas berperan cukup besar agar kegiatan dapat terlaksana
dengan baik.
Sekolah ini
memang nampak berbeda dengan sekolah yang ada disekitarnya, dari segi tenaga
pengajar dan pegawai lembaga beserta cara pengelolaan lembaga itu sendiri.
Nampak terlihat bahwa sekolah ini mempunyai sistem manajemen yang sangat baik
dengan bisa memposisikan dirinya sebagai
sekolah unggulan dan dapat diakui dan diterima keberadaannya oleh masyarakat.
No comments:
Post a Comment