PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Perubahan yang serba cepat dalam kehidupan masyarakat,
akibat perkembangan ilmu dan teknologi, serta macam-macam tuntutan kebutuhan
dari berbagai sektor sangat berpengaruh terhadap perkembangan madrasah. Sekolah sebagai sistem terbuka,
sistem sosial, dan sekolah sebagai agen perubahan, bukan hanya harus peka dalam
penyesuaian diri, melainkan seharusnya juga dapat mengantisipasikan
perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dalam kurun waktu tertentu.
Salah satu kekuatan efektif dalam pengelolaan sekolah yang
berperan bertanggung jawab menghadapi
perubahan adalah kepemimpinan kepala sekolah, yaitu perilaku kepala
sekolah yang mampu memprakarsai pemikiran baru didalam proses interaksi di
lingkungan sekolah dengan melakukan perubahan atau penyesuaian tujuan, sasaran,
konfigurasi, prosedur, input, proses atau output dari suatu sekolah sesuai
dengan tuntutan perkembangan.
Esensi kepala sekolahan
adalah kepemimpinan pengajaran. Seorang kepala sekolah adalah orang yang
benar-benar seorang pemimpin, seorang inovator. Oleh sebab itu, kualitas
kepemimpinan kepala sekolah harus signifikan sebagai kunci keberhasilan
sekolah.
Pada dasarnya terjadi perdebatan yang sifatnya parennial
tentang asal usul seorang pemimpin yang efektif, baik di kalangan ilmuwan yang
mendalami masalah-masalah kepemimpinan maupun dikalangan para praktisi,
terdapat dua kubu dalam perdebatan tersebut. Masing-masing kubu tampaknya
sangat gigih dalam membela pendirian dan pendapatnya.
Di satu pihak ada yang berpendapat bahwa “ pemimpin
dilahirkan”. Pandangan ini berkisar pada pendapat bahwa seseorang hanya akan
menjadi pimpinan yang efektif karena dia dilahirkan dengan bakat-bakat
kepemimpinan. Tidak jarang pandangan ini diwarnai oleh filsafat hidup yang
deterministik dalam arti adanya keyakinan diantara para penganutnya bahwa jika
seorang memang sudah “ditakdirkan” menjadi seorang pemimpin, terlepas dari
perjalanan hidup yang bersangkutan tampil pada panggung kepemimpinan dan akan
efektif dalam menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinannya.[1]
Di kubu lain terdapat orang-orang yang berpendapat bahwa
“pemimpin di bentuk dan di tempa”. Pandangan ini berkisar pada pendapat yang
mengatakan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dibentuk dan ditempa.
Caranya adalah dengan memberikan kesempatan yang luas kepada yang bersangkutan
untuk menumbuhkan dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui
berbagai kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan.[2]
Dengan demikian
kepemimpinan adalah sebagai sumber amanat dan tanggung jawab. Pada dasarnya
Islam memperkenankan umatnya menduduki jabatan tinggi, sepanjang kedudukannya
itu untuk tujuan kemaslahatan. Bahkan yang demikian merupakan keharusan, karena
tanpa kepemimpinan tidak mungkin perintah Allah dapat dilaksanakan dalam suatu
masyarakat.
Dalam hal amanat Allah berfirman :
bÎ)
©!$#
öNä.ããBù't
br&
(#rxsè?
ÏM»uZ»tBF{$#
#n<Î)
$ygÎ=÷dr&
#sÎ)ur
OçFôJs3ym
tû÷üt/
Ĩ$¨Z9$#
br&
(#qßJä3øtrB
ÉAôyèø9$$Î/
4 ¨bÎ)
©!$#
$KÏèÏR
/ä3ÝàÏèt
ÿ¾ÏmÎ/
3 ¨bÎ)
©!$#
tb%x.
$JèÏÿx
#ZÅÁt/
ÇÎÑÈ
Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat". (QS. Al-Nisaa:
58)[3]
Seorang pemimpin pendidikan tidak saja dituntut menguasai
teori kepemimpinan, tetapi ia juga harus terampil menerapkan dalam situasi
praktis di arena kerja. Adalah ideal jika seorang pemimpin pendidikan di samping
memiliki bekal kepemimpinan dari teori dan pengakuan resmi yang bersifat
ekstern, tetapi juga pembawaan potensial yang di bawa sejak lahir atas anugerah
illahi, namun orang dapat melatihnya, agar dapat menjadi pemimpin yang tangguh
dan mampu serta terampil.
Dalam situasi kepemimpinan pendidikan, seseorang dihadapkan
pada banyak problema pendidikan, baik administratif maupun akademik. Oleh sebab
itu pendidikan formal banyak ditekankan pada situasi belajar-mengajar, maka
banyak muncul problema berkenaan dengan pembinaan dan pengembangannya. Di sinilah
letak kevitalan peranan pemimpin pendidikan sebagai supervisor, sehingga
seorang kepala madrasah dituntut untuk bisa menjalankan fungsinya sebagai
kepala madrasah.
Kepala madrasah sebagai inovator dalam rangka melakukan peran dan
fungsinya, harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang
harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintregasikan setiap
kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di madrasah,
dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif.
Kepala sekolah sebagai inovator akan tercermin dari cara-cara ia
melakukan pekerjaannya secara
konstruktif, kreatif, delegatif, integratif, rasional, dan obyektif, pragmatis,
keteladanan, disiplin, serta adaptable dan fleksibel.
Kepala sekolah dalam melakukan pekerjaannya harus secara konstruktif,
maksudnya bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di
sekolah, kepala sekolah harus berusaha mendorong dan membina setiap tenaga
kependidikan agar dapat berkembang secara optimal dalam melakukan tugas-tugas
yang diembankan kepada masing-masing tenaga kependidikan.
Kepala sekolah dalam melakukan pekerjaannya harus secara kreatif,
dimaksudkan bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di
sekolah, kepala sekolah harus berusaha mencari gagasan dan cara-cara baru dalam
melaksanakan tugasnya. Hal ini dilakukan agar para tenaga kependidikan dapat memahami apa-apa yang disampaikan oleh
kepala sekolah sebagai pimpinan, sehingga dapat mencapai tujuan sesuai dengan
visi dan misi sekolah.
Kepala sekolah dalam melakukan pekerjaannya harus secara delegatif,
maksudnya bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di
sekolah, kepala sekolah harus berupaya mendelegasikan tugas kepada tenaga
kependidikan sesuai dengan deskripsi tugas, jabatan serta kemampuan
masing-masing.
Kepala sekolah dalam melakukan pekerjaannya harus secara integratif,
dimaksudkan bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di madrasah,
kepala madrasah harus berusaha mengintegrasikan semua kegiatan sehingga dapat
menghasilkan sinergi untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif, efisien dan
produktif.
Kepala sekolah dalam melakukan pekerjaannya harus secara rasional dan obyektif,
dimaksudkan bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di
sekolah, kepala sekolah harus berusaha bertindak berdasarkan pertimbangan rasio
dan obyektif.
Kepala sekolah dalam melakukan pekerjaannya harus secara pragmatis,
dimaksudkan bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di
sekolah, kepala sekolah harus berusaha menetapkan kegiatan atau target berdasarkan
kondisi dan kemampuan nyata yang dimiliki oleh setiap tenaga kependidikan,
serta kemampuan yang dimiliki sekolah.
Kepala sekolah dalam melakukan pekerjaannya harus secara keteladanan,
dimaksudkan bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di
sekolah, kepala sekolah harus berusaha memberikan teladan dan contoh yang baik.
Kepala sekolah dalam melakukan pekerjaannya harus secara adaptable dan
fleksibel, dimaksudkan bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga
kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus berusaha mampu beradaptasi dan
fleksibel dalam menghadapi situasi baru, serta berusaha menciptakan situasi
kerja yang menyenangkan dan memudahkan para tenaga kependidikan untuk
beradaptasi dalam melaksanakan tugasnya.
Kepala madrasah sebagai inovator harus mampu mencari, menemukan dan
melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah. Gagasan baru tersebut misalnya
moving class. Moving class adalah mengubah strategi pembelajaran dari pola
kelas tetap menjadi kelas bidang studi, sehingga setiap bidang studi memiliki
kelas tersendiri, yang dilengkapi dengan alat peraga dan alat-alat lainnya.
Moving class ini bisa dipadukan dengan pembelajaran terpadu, sehingga dalam
suatu laboratorium bidang studi dapat di jaga oleh beberapa orang guru
(fasilitator), yang bertugas memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam
mengajar.[4]
No comments:
Post a Comment