Selamat Datang di Situs Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al Quran Al Ittifaqiah Indralaya Prodi PGRA

Thursday, May 18, 2017

UAS MSI

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
AL – QUR’AN AL-ITTIFAQIAH (STITQI)
INDRALAYA OGAN ILIR
 

SOAL UAS METODOLOGI STUDI ISLAM

TAKE HOME


  1. Carilah sebuah isu-isu terkait Studi Islam dan Isu-isu Kontemporer yang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan dan berkembang saat ini, baik yang dipublikasikan di media massa cetak maupun elektronik dan sertakan alamat lengkap nya.
  2. Berikan sebuah analisis terhadap isu yang anda angkat, berikan argumen pribadi anda dengan memberikan rujukan/referensi yang dapat dipertanggung jawabkan.
  3. Susun dengan format: Font Times New Roman 12 pt, spasi 11/2, dengan margin 44:33, A4 panjang jawaban bebas.
  4. Jawaban dikirim paling lambat tanggal 24 Mei ke alamat Email: stitqi.pgra@gmail.com

Wednesday, May 10, 2017

KONSEP KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBAL


A.      Pendahuluan
Kebangkitan Islam yang telah terjadi adalah suatu fenomena yang erat hubungannya dengan perkembangan umat manusia. Di masa lalu dari abad ke 9 hngga abad ke 19  masehi, Islam serta peradaban yang dibentuknya  mempunyai pengaruh yang tidak sedikit terhadap perkembangan umat manusia, termasuk tumbuhnya dunia barat sebagai kekuatan yang menguasai dunia sejak abad ke 17 hingga sekarang. Pengaruh itu antara lain terlihat dalaam Renaissance yang merupakan kebangkitan Eropa dari dari masa kegelapan dan menjadi permulaan dari pertumbuhan peradaban barat. Akan tetapi sejak akhir  abad ke 19 Islam mengalami gelombang surut ketika dunia barat justru mencapai puncak perkembangannya. Pada waktu itu seakan-akan  Islam sama sekali tidak ada artinya dalam kehidupan umat manusia. Bahkan Islam disamakan dengan kemelaratan dan keterbelakangan, sebaliknya barat mendominasi seluruh umat manusia, terutama karena penguasaanya atas ilmu pengetahuan dan teknologi. Barat pada waktu itu dianggap sebagai symbol kemajuan dan kesejahteraan. Namun dalam alam ini tidak ada satupun yang permanen, kecuali Allah Yang Maha Esa. Demikian pula dalam kehidupan umat manusia  selalu ada gelombang  naik dan gelombang surut. Maka sejak abad ke 20 tampak permulaan dari kebangkitan kembali Islam. Terjadi satu Revitalisasi dari umat Islam yang selama lebih dari satu abad telah berada dalam kurve menurun. Sebagaimana kemajuan perdaban Islam dimasa lalu telah merangsang terjadinya Renaissance dunia Barat, maka sebaliknya perkembangan perdaban Barat menciptakan kondisi umat manusia yang membuat umat Islam bangkit kembali.
Peradaban Barat telah menghasilkan kemajuan pesat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu berakibat terjadinya globalisasi, yaitu proses yang makin mendekatkan umat manusia yang satu dengan yang lain sehingga seakan-akan dunia semakin kecil dan tidak ada sesuatu terjadi yang tidak berdampak pada seluruh dunia dan umat manusia. Revitalisasi Islam berada dalam dunia dan umat manusia yang sedang dalam proses globalisasi itu. Karena itu mau tidak mau merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan atau dilepaskan dari proses itu.
Dalam perkembangan setiap peradaban kegiatan pendidikan mempunyai peran yang sangat penting. Lebih-lebih dalam globalisasi peran pendidikan sangat menentukan bagi umat manusia. Bangsa yang tidak menjalankan pendidikan yang memadai akan tertinggal dalam proses globalisasi yang penuh persaingan antara bangsa satu dengan yang lain. Oleh sebab itu arah dan perkembangan Islam sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang dilakukan umat Islam.
Pembahasan      
B.       Pengertian Pendidikan Islam dan Kurikulum
Pendidikan Islam adalah nama sistem, yaitu sistem pendidikan yang Islami, yang memiliki komponen-komponen yang secara keseluruhan mendukung terwujudnya sosok Muslim yang diidealkan. Pendidikan Islam ialah pendidikan yang teori-teorinya disusun berdasarkan Al Qur’an dan hadis. (Muhaimin 2005, hlm.6).
Pendidikan Islam menurut al-Syaibaniy adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat. Ahmad Tafsir mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. (Rasyidin dan Nizar, 2005: 32).
Pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan yang diselenggarakan atau didirikan dengan niat untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kegiatan pendidikannya. (Muhaimin, 2005: 8)
Menurut Sayid sabiq Pendidikan islam ialah menyiapkan anak didik baik jasmani ratio maupun rohani sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat untuk dirinya dan untuk umatnya. (Ishom Ahmadi 1995, hlm. 13)
Menurut Anwar Jundi dalam kitabnya tarbiyahl Al- Islamiyyah pendidikan islam ialahsuatu pendidikan yang menyiapkan generasinya secara kontinyu dari lahir sampai wafat  (Ishom Ahmadi 1995, hlm 13)
Menurut Musthafa Al-Ghalayyin pendidikan Islam adalah menanamkan akhlaq yang baik dalamjiwa angkatan muda  dan memerikan siraman dan tetesan petunjuk dan nasihat, sehingga menjadi metode yang baik serta menumbuhkan cinta kerja kepada negara. (Ishom Ahmadi 1995, hlm 13)
Dengan demikian pendidikan Islam adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk membimbing peserta didik dalam mengembangkan ilmunya dan berperilaku sesuai dengan ajaran Islam, sehingga akan menghasilkan manusia atau generasi yang Islami dan mempunyai kualitas yang tinggi. Atau dalam kata lain selain peserta didik menguasai atau ahli dalam ilmu dan teknologi peserta didik juga mempunyai akhlak yang terpuji.
Pendidikan Islam adalah bimbingan yang secara sengaja atau sadar yang membawa konsekwensi bahwa bahwa bimbingan itu harus dilaksanakan secara teratur dan secara sistematis, bahwa bimbingan itu diberikan oleh orang muslim dewasa dngan penuh kesadaran memberikan pelayanan kepada perkembangan jiwa anak, dan bahwa batas akhir dari pendidikan Islam ialah tingkat optimal  dari pertumbuhan dan perkembangan anak baik jasmani maupun rohani. Tingkat optimal di sini diartikan sebagai tingkat kedewasaan.
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Kurikulum merupakan landasan yang digunakan pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan pendidikan yang diinginkan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental. (Rasyidin dan Nizar 2005, hlm. 56).
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. (Ramayulis dan Nizar 2009, hlm. 191).
Pengertian kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli rupanya sangat bervariasi, tetapi dari beberapa devinisi itu dapat ditarik benang merah, bahwa di satu pihak ada yang menekankan pada isi pelajaran atau mata kuliah, dan di lain pihak lebih menekankan pada proses atau pengalaman belajar. (Muhaimin 2005, hlm. 1-2).
Dengan demikian kurikulum pendidikan islam terdiri dari evaluasi berkelanjutan terdiri dari perencanaan (rencana Allah) implementasi ( yang diaksanakan manusia selaku hamba Allah dan Khalifah didunia ini ) hingga evaluasi itu sediri (kelak dihari pembalasan) sebagaimana firman Allah dalam surat Yaasin ayat 64 “Pada hari itu Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami  tangan merekadan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”
C.      Kurikulum Pendidikan Islam

Islam berlaku sampai kapanpun, tak peduli di zaman teknologi secanggih apapun. Islam tetap berfungsi sebagai pedoman hidup manusia. Islam merupakan agama yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, Islam tidak mengenal sekat-sekat geografis, sehingga menjadikan Islam sebagai rahmatan li al-‘alamin.
Untuk menjadikan Islam sebagai rahmatan li al-‘alamin perlu menyusun strategi dalam pendidikan Islam itu sendiri. Strategi tersebut adalah menjadikan isi kurikulum sebagai alat atau pijakan untuk menjadikan pendidikan Islam yang terarah dan terkoordinir dengan baik, sehingga apa yang menjadi tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri dapat tercapai. Pijakan atau isi kurikulum tersebut tentunya tidak melenceng dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul.
            Kurikulum pendidikan Islam berbeda-beda isinya menurut kondisi perkembangan agama Islam, karena kaum muslimin berada di dalam lingkungan dan negeri yang berbeda-beda, walaupun mereka sepakat bahwa kitab suci Al Qur’an dijadikan sumber pokok ilmu-ilmu agama dan ilmu umum, Al Qur’an tetap menjadi sumber pedoman pendidikan di seluruh Negara Arab yang Islam, dan juga dijadikan sumber study lainnya. (Jumbulati dan Tuwaanisa 2002, hlm.58).
            Menurut Hasan Langgulung, paling tidak ada empat aspek utama yang menjadi ciri-ciri ideal sebuah kurikulum, yaitu:
1. Memuat tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
2. Memuat sejumlah pengetahuan (knowledge) dan keterampilan yang memperkaya aktivitas-aktivitas dan pengalaman peserta didik, sesuai dengan perkembangan peserta didik dan dinamika masyarakat.
3.  Memuat metode, cara-cara mengajar dan bimbingan yang dapat diikuti peserta didik untuk mendorongnya kearah yang dikehendaki dan tercapainya tujuan pendidikan yang dirumuskan.
4.  Memuat metode dan cara penilaian yang digunakan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan, baik aspek jasmani, akal, dan al-qalb. (Ramayulis dan Nizar 2009, hlm.191-192).
            Menurut al-Syaibani, mengemukakan bahwa tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat. Sementara tujuan akhir yang akan dicapai adalah mengembangkan fitrah peserta didik, baik ruh, fisik, kemauan, dan akalnya secara dinamis, sehingga akan terbentuk pribadi yang utuh dan mendukung bagi pelaksanaan fungsinya sebagai khalifah fi al-ardh. (Rasyidin dan Nizar 2005, hlm.36).
            Tujuan pokok pendidikan Islam, yakni tujuan jasmaniah (ahdaf al-jismiyyah), tujuan ruhani (ahdaf al-ruhiyyah), dan tujuan mental (ahdaf al-‘aqliyyah). (Abdullah 1994, hlm.137).
            Allah dalam membuat kurikulum sudah menentukan dan membuat visi yang direncanakan. Dalam pendidikan Islam visi adalah pernyataan sebuah cita-cita dan harapan-harapan  yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam itu sendiri dalam jangka panjang. Visi dalam pendidikan Islam disebut juga tujuan pendidikan Islam.
            Dalam kurikulum pendidikan Islam tujuan yang ingin dicapai antara lain adalah:
1.   Untuk mencapai Insan Kamil
2.  Untuk mencapai penyempurnaan akhlak yang terpuji sebagaimana sabda Nabi  Muhammad SAW ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan ahlaq”
3.   Untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 216
4.  Untuk mencapai kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat  bekerjalah untuk duniamu sekan kau hidup selamanya bekerjalah untuk akhiratmu seakan esok kau tiada
5.  Untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya “Dan tidak Ku ciptakan jin dan manusia melainkan mereka beribadah kepada-Ku.”
            “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (Q.S. Al Baqoroh: 164).
            “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (Q.S.Al Imron: 190).
            Dari pengertian atau arti dari ayat di atas bahwasannya segala sesuatu yang ada di muka bumi ini ada yang mengaturnya, ada yang membuatnya, dan ada yang mengendalikannya agar kita sebagai manusia dan makluk Allah dikaruniai kelebihan dan diistimewakan Allah di banding makhluk yang lainnya. Manusia diberi anugerah oleh Allah berupa akal untuk berfikir dan mengimplementasikannya terhadap pendidikan Islam. Ayat di atas jika dikaitkan dengan dengan pendidikan Islam menjelaskan tentang kurikulum.
Allah-lah Zat yang mengatur kurikulum di dunia ini dan tentu pula Allah-lah yang membuatnya. Allah kemudian mengutus Nabi Muhammad saw sebagai wakil kurikulum sekaligus pelaksana kurikulum di muka bumi ini. Kurikulum dalam pendidikan Islam sangat penting. Ada pepatah Arab yang mengatakan: ”Sesuatu yang hak jika tidak terorganisir akan dikalahkan oleh sesuatu yang batil yang terorganisir”.
Sedangkan menurut Quraish Shihab manusia bertugas sebagai ’abd lillah dan juga sebagai khalifah fi al-ardh. Kedua fungsi ini adalah konsekuensi dari potensi keilmuan yang mutlak bagi kesempurnaan pelaksanaan kedua tugas tersebut. (Shihab 1994, hlm.171).
Menurut Muhammad Quthb yang dikutip oleh Quraish Shihab kekhalifahan mengharuskan empat sisi yang saling berkaitan: (1) pemberi tugas, dalam hal ini Allah SWT; (2) penerima tugas, dalam hal ini manusia, perorangan maupun kelompok; (3) tempat atau lingkungan, di mana manusia berada; dan (4) materi-materi penugasan yang harus mereka laksanakan. (Shihab 1994, halm.173).           
            Materi pendidikan Islam adalah bersumber dari Al Qur’an dan Hadis. Apa yang ada di dunia ini pada hakekatnya adalah ilmu-ilmu Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya: ”Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (Q.S. An Nur: 35).
     ”Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)". (Q.S. Al Kahfi: 109).
     Materi pendidikan Islam antara lain berhubungan dengan aqidah:
     ”Demikianlah, karena Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah Itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar”. (Q.S. Lukman: 30).
     ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. Ar Rum: 30).
      Dalam penyajian materi pendidikannya, Al Qur’an membuktikan kebenaran materi tersebut melalui pembuktian-pembuktian, baik dengan argumentasi-argumentasi yang dikemukakannya, maupun yang dapat dibuktikan sendiri oleh manusia melalui penalaran akalnya. Ini dianjurkan oleh Al Qur’an untuk dilakukan pada saat mengemukakan materi tersebut agar akal manusia merasa bahwa ia berperan dalam menemukan hakikat materi yang disajikan sehingga merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk membelanya. 
      Menuntut ilmu ada masanya, yaitu:
1.        Pendidikan dimulai dari lahir sampai mati.
2.        Pendidikan dimulai dari lahir sampai dewasa.
3.        Pendidikan dimulai dari kandungan sampai meninggal dunia.



D.      Dasar  Kurikulum Pendidikan Islam

                Al Syaibany memberikan kerangka dasar yang jelas tentang kurikulum pendidikan Islam, yaitu:
1. Dasar agama. Dasar ini hendaknya menjadi ruh dan target tertinggi dalam kurikulum. Dasar agama dalam kurikulum pendidikan Islam jelas harus didasarkan pada Al Qur’an, al-Sunnah dan sumber-sumber yang bersifat furu’ lainnya.
2.  Dasar Falsafah. Dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan Islam secara filosofis, sehingga tujuan, isi dan organisasi kurikulum mengandung suatu kebenaran dan pandangan hidup dalam bentuk nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu kebenaran, baik ditinjau dari segi ontology, epistimologi maupun aksiologi.
3.   Dasar Psikologis. Dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan psikis peserta didik, sesuai tahap kematangan dan bakatnya, memperhatikan kecakapan pemikiran dan perbedaan perorangan antara satu peserta didik dengan lainnya.
4.   Dasar Sosial. Dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan Islam yang tercermin pada dasar social yang mengandung ciri-ciri masyarakat Islam dan kebudayaannya, baik dari segi pengetahuan, nilai-nilai ideal, cara berfikir dan adat kebiasaan, seni dan sebagainya. Sebab, tidak ada suatu masyarakat yang tidak berbudaya dan tidak berada pada masyarakat. Kaitannya dengan kurikulum pendidikan Islam sudah tentu kurikulum harus mengakar terhadap masyrakat dan perubahan dan perkembangannya. (Ramayulis dan Nizar 2009, hlm.191-192).
            Falsafah Pendidikan Islam berdasarkan Al Qur’an sebagai sumber utamanya dan otomatis menjadikan Al Qur’an sebagai sumber utama dalam penyusunan kurikulumnya. Muhammad Fadhil al-Jamili mengemukakan bahwa, al Qur’an al-Karim adalah kitab terbesar yang menjadi sumber filsafat pendidikan dan pengajaran bagi umat Islam. Sudah seharusnya kurikulum pendidikan Islam disusun sesuai denganal-Qur’an al-Karim dan al-Hadis untuk melengkapinya. Di dalam al-Qur’an dan Hadis ditemukan kerangka dasar yang dapat dijadikan sebagai pedoman operasional dalam penyusunan kurikulum pendidikan Islam. Kerangka tersebut adalah: (1) tauhid dan (2) perintah membaca.
(Ramayulis dan Nizar 2009, hlm.199-200).
            Firman Allah SWT dalam surat Al Alaq ayat 1-5 yang artinya:
“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Al Qur’an dan terjemahannya 1971, hlm.1079).
            Ditinjau dari segi kurikulum, sebenarnya Firman Allah SWT di atas merupakan pokok pendidikan yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia. Membaca selain melibatkan proses mental yang tinggi, pengenalan (cognition), ingatan (memory), pengamatan (perception), pengucapan (verbalization), pemikiran (reasoning), dan karya cipta (creativity). Proses tersebut sekaligus merupakan bahan pendidikan dalam Islam. Selanjutnya membaca merupakan alat sistem perhubungan (comunication system) yang menjadi syarat mutlak terwujudnya keterlanjutan suatu sistem sosial (social system). (Ramayulis dan Nizar 2009, hlm. 201).
            Jika dijabarkan secara cermat, kalimat ayat di atas pada dasarnya mencakup kerangka kurikulum pendidikan Islam yang ideal. Jabaran tersebut bisa dilihat dari beberapa indikasi, yaitu:
1.  “Bacalah! Dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”. Tekanan yang dikandung   dalam ayat ini adalah kemampuan membaca yang dihubungkan dengan nama Tuhan sebagai Pencipta. Hal ini erat hubungannya dengan ilmu nagli (perenial knowledge).
2.   ”Dia menciptakan manusia dari segumpal darah”. Ayat ini mendorong manusia untuk mengintrospeksi, menyelidiki tentang dirinya dimulai dari proses kejadian dirinya. Manusia ditantang dan dirangsang untuk mengungkapkannya melalui imajinasi maupun pengalaman (acquired knowledge).
3.  “Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Motivasi yang terkandung dalam ayat ini adalah agar manusia terdorong untuk mengadakan eksplorasi terhadap alam sekitarnya dengan kemampuan membaca dan menulisnya.
4.  Dari perintah Allah kepada manusia yang tercermin dalam ayat di atas, kemudian dikembangkan dalam bentuk ilmu-ilmu yang berhubungan dengan wahyu Allah yang termuat dalam al-Qur’an. Selanjutnya dikembangkan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan alam sekitarnya. Hakekat membaca pada ayat Allah tersebut pada intinya adalah ”tauhid”. Disinilah letaknya kurikulum pendidikan Islam, sebab menurut Islam semua pengetahuan datang dari Tuhan, tetapi cara penyampaiannya ada yang langsung dari Tuhan, dan ada pula melalui pemikiran manusia serta pengalaman indra yang berbeda satu sama lain. (Ramayulis dan Nizar 2009, hlm.202)
     
E.   Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
            Menurut al-Syaibany, prinsip-prinsip yang harus menjadi acuan kurikulum pendidikan Islam, meliputi:
1.  Berorientasi pada Islam, termasuk ajaran dan nilai-nilainya. Untuk itu kurikulum yang dirumuskan, baik yang berkaitan falsafah, tujuan, kandungan, metode mengajar, maupun cara-cara perlakuan dan hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga-lembaga pendidikan harus berdasarkan pada agama dan akhlak Islam.
2.  Prinsip menyeluruh (universal), yaitu muatan kurikulum hendaknya berlaku secara menyeluruh, tanpa terbatasi oleh sekat wilayah.
3.  Prinsip keseimbangan, yaitu muatan kurikulum hendaknya memuat ilmu dan aktivitas belajar secara berkesinambungan pada jenjang pendidikan yang ditawarkan.
4. Prinsip-prinsip interaksi antara kebutuhan peserta didik, pendidik dan masyarakat.
5.  Prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual antar peserta didik, baik   perbedaan dari segi bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan sebagainya.
6.  Prinsip perkembangan dan perubahan sesuai dengan tuntutan yang ada dengan tidak mengabaikan nilai-nilai absolute (Illahiah).
7. Prinsip pertautan (integritas) antar mata pelajaran, pengalaman-pengalaman, dan aktiviti yang terkandung dalam kurikulum dengan kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat. (Ramayulis dan Nizar 2009, hlm.196-19).
                 Menurut ‘Athiyyah pembuatan kurikulum pendidikan Islam itu menggunakan prinsip-prinsip:
1.  Pengaruh mata pelajaran itu dalam pendidikan jiwa serta kesempurnaan jiwa. Karena  itu, diberikan pelajaran-pelajaran keagamaan dan ketuhanan karena ilmu termulia ialah mengenai Tuhan serta sifat-sifat yang pantas pada Tuhan.
2. Pengaruh suatu pelajaran dalam bidang petunjuk atau tuntunan adalah dengan menjalani cara hidup yang mulia, sempurna, seperti dengan ilmu akhlak, hadis, fikih…
3.   Di samping itu, ada lagi mata pelajaran yang dipelajari oleh orang-orang Islam karena mata pelajaran tersebut mengandung kelezatan ideologi, yaitu apa yang oleh ahli-ahli pendidikan utama dewasa ini dinamakan menuntut ilmu karena ilmu itu sendiri.
4.  Orang-orang Muslim mempelajari ilmu pengetahuan karena ilmu itu dianggap yang terlezat  bagi manusia. Menurut fitrahnya, manusia senang mengetahui sesuatu yang baru. (Abasyi 2003, hlm. 179).
            Dengan demikian prinsip-prinsip Kurikulum dalam pendidikan Islam ada tujuan yang ingin dicapai, tujuan jangka pendek untuk didunia dan tujuan jangka panjang untuk diakhirat. Objek materialnya adalah manusia dan objek formal nya adalah anak didik (manusia) karena manusia dapat dididik dan memiliki potensi potensi untuk  menjandi insan kamil terdiri dari unsure nafsani rohani dan jasmani selain itu karena manusia memiliki akal penglihatan dan hati sebagaimana firman Allah Allah mengeluarknmu dari perut ibumu dalam kodisi tidak tahu apa apa dan menciptakan untuk pendengaran, penglihatan dan hati agar kalian bersyukur (al-Nahl :56)

D.      Kesimpulan  

Berdasarkan uraian diatas kurikulum di era globalisasi bahwa pendidikan Islam masih dapat dipertahankan bahkan masing sangat diperlukan dalam mengadapi era globalisasi, dan idealnya pendidikan islam diintegrasikan dengan ilmu-ilmu yang lain yang sesuai dengan perkembangan zaman yang ada pada saat ini dengan tetap bersumber pada ayat-ayat allah dan Hadist Rasul., Dengan menggunakan integrasi kurikulum hingga dapat memenuhi tuntutan dan  kebutuhan pendidikan di era globalisasi
Secara formal kemunculan kurikulum sebagai bidang kajian ilmiah, baru pada abad ke 20. Kurikulum pada masa klasik berbeda dengan kurikulum pada masa sekarang. Kurikulum dalam lembaga pendidikan Islam klasik  pada mulanya berkisar  pada bidang studi tertentu. Namun dengan perkembangan social dan cultural, materi kurikulum semakin meluas. Pada masa nabi Muhammad SAW di Madinah, materi pelajaran berkisar pada belajar menulis, membaca al-Quran, keimanan, ibadah, akhlak , dasar ekonomi, dasar politik, dan kesatuan. Dengan demikian kurikulum dapat pula dipahami “ is al the experiences that pupils have under the guidance of the school”, yaitu pengalaman anak  di sekolah dibawah bimbingan sekolah. Definisi ini mengandung bahwa kurikulum yang dibentuk itu  dapat mengkomodir seluruh potensi anak dan sesuai perkembangan zaman.

Dalam proses peningkatan kualitas akademik diperlukan pemikiran untuk memunculkan kurikulum terpadu (integrated curriculum) yang memadukan antar ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. Kurikulum terpadu dimaksudkan sebagai usaha  dalam menepis  pandangan dikotomi antara pengetahuan agama dan umum. Asumsi ini, berangkat dari asumsi bahwa pendidikan umum hanyalah bersifat antroposentris dan senderung melahirkan lulusan yang sekuler-materialis. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan praktisi pendidikan Islam, kareena melihat kenyataan bahwa system pendidikan yang  islam sekuler-materialis telah mengalami “ kegagalan” di barat (Eropa dan Amerika). Oleh karena itu para intelektual mencoba  untuk merumuskan suatu kurikulum yang merupakan perpeduan antara keduanya, dan ini telah melahirkan  apa yang disebut dengan kurikulum terpadu.

Iklan oleh Google