A. Pendahuluan
Kebangkitan Islam yang telah terjadi adalah
suatu fenomena yang erat hubungannya dengan perkembangan umat manusia. Di masa
lalu dari abad ke 9 hngga abad ke 19 masehi, Islam serta peradaban yang
dibentuknya mempunyai pengaruh yang
tidak sedikit terhadap perkembangan umat manusia, termasuk tumbuhnya dunia
barat sebagai kekuatan yang menguasai dunia sejak abad ke 17 hingga sekarang.
Pengaruh itu antara lain terlihat dalaam Renaissance yang merupakan kebangkitan
Eropa dari dari masa kegelapan dan menjadi permulaan dari pertumbuhan peradaban
barat. Akan tetapi sejak akhir abad ke
19 Islam mengalami gelombang surut ketika dunia barat justru mencapai puncak
perkembangannya. Pada waktu itu seakan-akan
Islam sama sekali tidak ada artinya dalam kehidupan umat manusia. Bahkan
Islam disamakan dengan kemelaratan dan keterbelakangan, sebaliknya barat
mendominasi seluruh umat manusia, terutama karena penguasaanya atas ilmu
pengetahuan dan teknologi. Barat pada waktu itu dianggap sebagai symbol
kemajuan dan kesejahteraan. Namun dalam alam ini tidak ada satupun yang
permanen, kecuali Allah Yang Maha Esa. Demikian pula dalam kehidupan umat
manusia selalu ada gelombang naik dan gelombang surut. Maka sejak abad ke
20 tampak permulaan dari kebangkitan kembali Islam. Terjadi satu Revitalisasi
dari umat Islam yang selama lebih dari satu abad telah berada dalam kurve menurun.
Sebagaimana kemajuan perdaban Islam dimasa lalu telah merangsang terjadinya
Renaissance dunia Barat, maka sebaliknya perkembangan perdaban Barat
menciptakan kondisi umat manusia yang membuat umat Islam bangkit kembali.
Peradaban Barat telah menghasilkan kemajuan
pesat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu berakibat
terjadinya globalisasi, yaitu proses yang makin mendekatkan umat manusia yang
satu dengan yang lain sehingga seakan-akan dunia semakin kecil dan tidak ada
sesuatu terjadi yang tidak berdampak pada seluruh dunia dan umat manusia.
Revitalisasi Islam berada dalam dunia dan umat manusia yang sedang dalam proses
globalisasi itu. Karena itu mau tidak mau merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan atau dilepaskan dari proses itu.
Dalam perkembangan setiap peradaban kegiatan
pendidikan mempunyai peran yang sangat penting. Lebih-lebih dalam globalisasi
peran pendidikan sangat menentukan bagi umat manusia. Bangsa yang tidak
menjalankan pendidikan yang memadai akan tertinggal dalam proses globalisasi
yang penuh persaingan antara bangsa satu dengan yang lain. Oleh sebab itu arah
dan perkembangan Islam sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang dilakukan umat
Islam.
Pembahasan
B. Pengertian Pendidikan Islam dan Kurikulum
Pendidikan Islam adalah nama sistem, yaitu sistem pendidikan
yang Islami, yang memiliki komponen-komponen yang secara keseluruhan mendukung
terwujudnya sosok Muslim yang diidealkan. Pendidikan Islam ialah pendidikan
yang teori-teorinya disusun berdasarkan Al Qur’an dan hadis. (Muhaimin 2005,
hlm.6).
Pendidikan Islam menurut al-Syaibaniy adalah proses mengubah
tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan
alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan
pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi
asasi dalam masyarakat. Ahmad Tafsir mendefinisikan pendidikan Islam sebagai
bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal
sesuai dengan ajaran Islam. (Rasyidin dan Nizar, 2005: 32).
Pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan yang
diselenggarakan atau didirikan dengan niat untuk mengejawantahkan ajaran dan
nilai-nilai Islam dalam kegiatan pendidikannya. (Muhaimin, 2005: 8)
Menurut Sayid sabiq Pendidikan islam ialah menyiapkan anak
didik baik jasmani ratio maupun rohani sehingga menjadi pribadi yang bermanfaat
untuk dirinya dan untuk umatnya. (Ishom Ahmadi 1995, hlm. 13)
Menurut Anwar Jundi dalam kitabnya tarbiyahl Al- Islamiyyah
pendidikan islam ialahsuatu pendidikan yang menyiapkan generasinya secara
kontinyu dari lahir sampai wafat (Ishom
Ahmadi 1995, hlm 13)
Menurut Musthafa Al-Ghalayyin pendidikan Islam adalah
menanamkan akhlaq yang baik dalamjiwa angkatan muda dan memerikan siraman dan tetesan petunjuk
dan nasihat, sehingga menjadi metode yang baik serta menumbuhkan cinta kerja
kepada negara. (Ishom Ahmadi 1995, hlm 13)
Dengan demikian pendidikan Islam adalah pendidikan yang
diselenggarakan untuk membimbing peserta didik dalam mengembangkan ilmunya dan
berperilaku sesuai dengan ajaran Islam, sehingga akan menghasilkan manusia atau
generasi yang Islami dan mempunyai kualitas yang tinggi. Atau dalam kata lain
selain peserta didik menguasai atau ahli dalam ilmu dan teknologi peserta didik
juga mempunyai akhlak yang terpuji.
Pendidikan Islam adalah bimbingan yang secara sengaja atau
sadar yang membawa konsekwensi bahwa bahwa bimbingan itu harus dilaksanakan
secara teratur dan secara sistematis, bahwa bimbingan itu diberikan oleh orang
muslim dewasa dngan penuh kesadaran memberikan pelayanan kepada perkembangan
jiwa anak, dan bahwa batas akhir dari pendidikan Islam ialah tingkat
optimal dari pertumbuhan dan
perkembangan anak baik jasmani maupun rohani. Tingkat optimal di sini diartikan
sebagai tingkat kedewasaan.
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada
lembaga pendidikan. Kurikulum merupakan landasan yang digunakan pendidik untuk
membimbing peserta didiknya ke arah tujuan pendidikan yang diinginkan melalui
akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental. (Rasyidin dan Nizar 2005, hlm. 56).
Kurikulum
merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem
pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum merupakan salah satu alat untuk
mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan
pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. (Ramayulis dan Nizar 2009,
hlm. 191).
Pengertian kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli rupanya
sangat bervariasi, tetapi dari beberapa devinisi itu dapat ditarik benang
merah, bahwa di satu pihak ada yang menekankan pada isi pelajaran atau mata
kuliah, dan di lain pihak lebih menekankan pada proses atau pengalaman belajar.
(Muhaimin 2005, hlm. 1-2).
Dengan demikian kurikulum pendidikan islam terdiri dari
evaluasi berkelanjutan terdiri dari perencanaan (rencana Allah) implementasi (
yang diaksanakan manusia selaku hamba Allah dan Khalifah didunia ini ) hingga
evaluasi itu sediri (kelak dihari pembalasan) sebagaimana firman Allah dalam
surat Yaasin ayat 64 “Pada hari itu Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah
kepada kami tangan merekadan memberi
kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”
C. Kurikulum Pendidikan Islam
Islam berlaku sampai kapanpun, tak peduli di zaman teknologi
secanggih apapun. Islam tetap berfungsi sebagai pedoman hidup manusia. Islam
merupakan agama yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, Islam tidak mengenal
sekat-sekat geografis, sehingga menjadikan Islam sebagai rahmatan li
al-‘alamin.
Untuk menjadikan Islam sebagai rahmatan li al-‘alamin perlu
menyusun strategi dalam pendidikan Islam itu sendiri. Strategi tersebut adalah
menjadikan isi kurikulum sebagai alat atau pijakan untuk menjadikan pendidikan
Islam yang terarah dan terkoordinir dengan baik, sehingga apa yang menjadi
tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri dapat tercapai. Pijakan atau isi
kurikulum tersebut tentunya tidak melenceng dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul.
Kurikulum pendidikan Islam
berbeda-beda isinya menurut kondisi perkembangan agama Islam, karena kaum
muslimin berada di dalam lingkungan dan negeri yang berbeda-beda, walaupun mereka
sepakat bahwa kitab suci Al Qur’an dijadikan sumber pokok ilmu-ilmu agama dan
ilmu umum, Al Qur’an tetap menjadi sumber pedoman pendidikan di seluruh Negara
Arab yang Islam, dan juga dijadikan sumber study lainnya. (Jumbulati dan
Tuwaanisa 2002, hlm.58).
Menurut Hasan Langgulung, paling
tidak ada empat aspek utama yang menjadi ciri-ciri ideal sebuah kurikulum,
yaitu:
1. Memuat
tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
2. Memuat sejumlah
pengetahuan (knowledge) dan keterampilan yang memperkaya aktivitas-aktivitas
dan pengalaman peserta didik, sesuai dengan perkembangan peserta didik dan
dinamika masyarakat.
3. Memuat metode, cara-cara mengajar dan
bimbingan yang dapat diikuti peserta didik untuk mendorongnya kearah yang
dikehendaki dan tercapainya tujuan pendidikan yang dirumuskan.
4. Memuat metode dan cara penilaian yang
digunakan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan, baik aspek
jasmani, akal, dan al-qalb. (Ramayulis dan Nizar 2009, hlm.191-192).
Menurut al-Syaibani, mengemukakan
bahwa tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia
dan akhirat. Sementara tujuan akhir yang akan dicapai adalah mengembangkan
fitrah peserta didik, baik ruh, fisik, kemauan, dan akalnya secara dinamis,
sehingga akan terbentuk pribadi yang utuh dan mendukung bagi pelaksanaan
fungsinya sebagai khalifah fi al-ardh. (Rasyidin dan Nizar 2005, hlm.36).
Tujuan pokok pendidikan Islam, yakni
tujuan jasmaniah (ahdaf al-jismiyyah), tujuan ruhani (ahdaf al-ruhiyyah), dan
tujuan mental (ahdaf al-‘aqliyyah). (Abdullah 1994, hlm.137).
Allah dalam membuat kurikulum sudah
menentukan dan membuat visi yang direncanakan. Dalam pendidikan Islam visi
adalah pernyataan sebuah cita-cita dan harapan-harapan yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam itu
sendiri dalam jangka panjang. Visi dalam pendidikan Islam disebut juga tujuan
pendidikan Islam.
Dalam kurikulum pendidikan Islam
tujuan yang ingin dicapai antara lain adalah:
1. Untuk mencapai Insan Kamil
2. Untuk mencapai penyempurnaan akhlak yang
terpuji sebagaimana sabda Nabi Muhammad
SAW ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan ahlaq”
3. Untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di
akhirat, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 216
4. Untuk mencapai kehidupan yang seimbang antara
dunia dan akhirat bekerjalah untuk
duniamu sekan kau hidup selamanya bekerjalah untuk akhiratmu seakan esok kau
tiada
5. Untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana
firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya “Dan tidak Ku ciptakan jin
dan manusia melainkan mereka beribadah kepada-Ku.”
“Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di
laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari
langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati
(kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran
angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat)
tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (Q.S. Al
Baqoroh: 164).
“Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal”. (Q.S.Al Imron: 190).
Dari pengertian atau arti dari ayat
di atas bahwasannya segala sesuatu yang ada di muka bumi ini ada yang
mengaturnya, ada yang membuatnya, dan ada yang mengendalikannya agar kita
sebagai manusia dan makluk Allah dikaruniai kelebihan dan diistimewakan Allah
di banding makhluk yang lainnya. Manusia diberi anugerah oleh Allah berupa akal
untuk berfikir dan mengimplementasikannya terhadap pendidikan Islam. Ayat di atas jika dikaitkan dengan dengan
pendidikan Islam menjelaskan tentang kurikulum.
Allah-lah Zat yang
mengatur kurikulum di dunia ini dan tentu pula Allah-lah yang membuatnya. Allah
kemudian mengutus Nabi Muhammad saw sebagai wakil kurikulum sekaligus pelaksana
kurikulum di muka bumi ini. Kurikulum dalam pendidikan Islam sangat penting.
Ada pepatah Arab yang mengatakan: ”Sesuatu yang hak jika tidak terorganisir
akan dikalahkan oleh sesuatu yang batil yang terorganisir”.
Sedangkan menurut
Quraish Shihab manusia bertugas sebagai ’abd lillah dan juga sebagai khalifah
fi al-ardh. Kedua fungsi ini adalah konsekuensi dari potensi keilmuan yang
mutlak bagi kesempurnaan pelaksanaan kedua tugas tersebut. (Shihab 1994,
hlm.171).
Menurut Muhammad
Quthb yang dikutip oleh Quraish Shihab kekhalifahan mengharuskan empat sisi
yang saling berkaitan: (1) pemberi tugas, dalam hal ini Allah SWT; (2) penerima
tugas, dalam hal ini manusia, perorangan maupun kelompok; (3) tempat atau
lingkungan, di mana manusia berada; dan (4) materi-materi penugasan yang harus
mereka laksanakan. (Shihab 1994, halm.173).
Materi pendidikan Islam adalah bersumber dari Al Qur’an dan Hadis. Apa yang
ada di dunia ini pada hakekatnya adalah ilmu-ilmu Allah. Hal ini sesuai dengan
firman Allah yang artinya: ”Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di
dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan
bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari
pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur
(sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir
menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),
Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah
memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui
segala sesuatu”. (Q.S. An Nur: 35).
”Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi
tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu
sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan
tambahan sebanyak itu (pula)". (Q.S. Al Kahfi: 109).
Materi pendidikan Islam antara lain
berhubungan dengan aqidah:
”Demikianlah, karena Sesungguhnya Allah,
Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah
Itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha
besar”. (Q.S. Lukman: 30).
”Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus
kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. Ar Rum: 30).
Dalam penyajian materi pendidikannya, Al
Qur’an membuktikan kebenaran materi tersebut melalui pembuktian-pembuktian,
baik dengan argumentasi-argumentasi yang dikemukakannya, maupun yang dapat
dibuktikan sendiri oleh manusia melalui penalaran akalnya. Ini dianjurkan oleh
Al Qur’an untuk dilakukan pada saat mengemukakan materi tersebut agar akal
manusia merasa bahwa ia berperan dalam menemukan hakikat materi yang disajikan
sehingga merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk membelanya.
Menuntut ilmu ada masanya, yaitu:
1.
Pendidikan dimulai dari lahir sampai mati.
2.
Pendidikan dimulai dari lahir sampai dewasa.
3.
Pendidikan dimulai dari kandungan sampai
meninggal dunia.
D. Dasar Kurikulum
Pendidikan Islam
Al Syaibany memberikan kerangka dasar
yang jelas tentang kurikulum pendidikan Islam, yaitu:
1. Dasar agama. Dasar
ini hendaknya menjadi ruh dan target tertinggi dalam kurikulum. Dasar agama
dalam kurikulum pendidikan Islam jelas harus didasarkan pada Al Qur’an,
al-Sunnah dan sumber-sumber yang bersifat furu’ lainnya.
2. Dasar Falsafah. Dasar ini memberikan pedoman
bagi tujuan pendidikan Islam secara filosofis, sehingga tujuan, isi dan
organisasi kurikulum mengandung suatu kebenaran dan pandangan hidup dalam
bentuk nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu kebenaran, baik ditinjau dari
segi ontology, epistimologi maupun aksiologi.
3. Dasar Psikologis. Dasar ini memberikan
landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan
psikis peserta didik, sesuai tahap kematangan dan bakatnya, memperhatikan
kecakapan pemikiran dan perbedaan perorangan antara satu peserta didik dengan
lainnya.
4. Dasar Sosial. Dasar ini memberikan gambaran
bagi kurikulum pendidikan Islam yang tercermin pada dasar social yang
mengandung ciri-ciri masyarakat Islam dan kebudayaannya, baik dari segi
pengetahuan, nilai-nilai ideal, cara berfikir dan adat kebiasaan, seni dan
sebagainya. Sebab, tidak ada suatu masyarakat yang tidak berbudaya dan tidak
berada pada masyarakat. Kaitannya dengan kurikulum pendidikan Islam sudah tentu
kurikulum harus mengakar terhadap masyrakat dan perubahan dan perkembangannya.
(Ramayulis dan Nizar 2009, hlm.191-192).
Falsafah Pendidikan Islam
berdasarkan Al Qur’an sebagai sumber utamanya dan otomatis menjadikan Al Qur’an
sebagai sumber utama dalam penyusunan kurikulumnya. Muhammad Fadhil al-Jamili
mengemukakan bahwa, al Qur’an al-Karim adalah kitab terbesar yang menjadi sumber
filsafat pendidikan dan pengajaran bagi umat Islam. Sudah seharusnya kurikulum
pendidikan Islam disusun sesuai denganal-Qur’an al-Karim dan al-Hadis untuk
melengkapinya. Di dalam al-Qur’an dan Hadis ditemukan kerangka dasar yang dapat
dijadikan sebagai pedoman operasional dalam penyusunan kurikulum pendidikan
Islam. Kerangka tersebut adalah: (1) tauhid dan (2) perintah membaca.
(Ramayulis
dan Nizar 2009, hlm.199-200).
Firman Allah SWT dalam surat Al Alaq
ayat 1-5 yang artinya:
“
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya”. (Al Qur’an dan terjemahannya 1971, hlm.1079).
Ditinjau
dari segi kurikulum, sebenarnya Firman Allah SWT di atas merupakan pokok
pendidikan yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia.
Membaca selain melibatkan proses mental yang tinggi, pengenalan (cognition),
ingatan (memory), pengamatan (perception), pengucapan (verbalization),
pemikiran (reasoning), dan karya cipta (creativity). Proses tersebut sekaligus
merupakan bahan pendidikan dalam Islam. Selanjutnya membaca merupakan alat
sistem perhubungan (comunication system) yang menjadi syarat mutlak terwujudnya
keterlanjutan suatu sistem sosial (social system). (Ramayulis dan Nizar 2009,
hlm. 201).
Jika
dijabarkan secara cermat, kalimat ayat di atas pada dasarnya mencakup kerangka
kurikulum pendidikan Islam yang ideal. Jabaran tersebut bisa dilihat dari
beberapa indikasi, yaitu:
1.
“Bacalah! Dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”. Tekanan yang dikandung dalam ayat ini adalah kemampuan membaca yang
dihubungkan dengan nama Tuhan sebagai Pencipta. Hal ini erat hubungannya dengan
ilmu nagli (perenial knowledge).
2. ”Dia
menciptakan manusia dari segumpal darah”. Ayat ini mendorong manusia untuk
mengintrospeksi, menyelidiki tentang dirinya dimulai dari proses kejadian
dirinya. Manusia ditantang dan dirangsang untuk mengungkapkannya melalui
imajinasi maupun pengalaman (acquired knowledge).
3. “Bacalah,
dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, yang mengajarkan (manusia) dengan
perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Motivasi yang terkandung dalam ayat ini adalah agar manusia terdorong untuk
mengadakan eksplorasi terhadap alam sekitarnya dengan kemampuan membaca dan
menulisnya.
4. Dari
perintah Allah kepada manusia yang tercermin dalam ayat di atas, kemudian
dikembangkan dalam bentuk ilmu-ilmu yang berhubungan dengan wahyu Allah yang
termuat dalam al-Qur’an. Selanjutnya dikembangkan mengenai hal-hal yang
berhubungan dengan alam sekitarnya. Hakekat membaca pada ayat Allah tersebut
pada intinya adalah ”tauhid”. Disinilah letaknya kurikulum pendidikan Islam,
sebab menurut Islam semua pengetahuan datang dari Tuhan, tetapi cara
penyampaiannya ada yang langsung dari Tuhan, dan ada pula melalui pemikiran
manusia serta pengalaman indra yang berbeda satu sama lain. (Ramayulis
dan Nizar 2009, hlm.202)
E.
Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
Menurut
al-Syaibany, prinsip-prinsip yang harus menjadi acuan kurikulum pendidikan Islam, meliputi:
1. Berorientasi pada Islam, termasuk ajaran dan
nilai-nilainya. Untuk itu kurikulum yang dirumuskan, baik yang berkaitan
falsafah, tujuan, kandungan, metode mengajar, maupun cara-cara perlakuan dan
hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga-lembaga pendidikan harus
berdasarkan pada agama dan akhlak Islam.
2. Prinsip menyeluruh (universal), yaitu muatan
kurikulum hendaknya berlaku secara menyeluruh, tanpa terbatasi oleh sekat
wilayah.
3. Prinsip keseimbangan, yaitu muatan kurikulum hendaknya
memuat ilmu dan aktivitas belajar secara berkesinambungan pada jenjang
pendidikan yang ditawarkan.
4. Prinsip-prinsip
interaksi antara kebutuhan peserta didik, pendidik dan masyarakat.
5. Prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan
individual antar peserta didik, baik perbedaan
dari segi bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan sebagainya.
6. Prinsip perkembangan dan perubahan sesuai
dengan tuntutan yang ada dengan tidak mengabaikan nilai-nilai absolute
(Illahiah).
7. Prinsip pertautan
(integritas) antar mata pelajaran, pengalaman-pengalaman, dan aktiviti yang
terkandung dalam kurikulum dengan kebutuhan peserta didik dan kebutuhan
masyarakat. (Ramayulis dan Nizar 2009, hlm.196-19).
Menurut ‘Athiyyah pembuatan kurikulum pendidikan Islam itu menggunakan
prinsip-prinsip:
1. Pengaruh mata pelajaran itu dalam pendidikan
jiwa serta kesempurnaan jiwa. Karena
itu, diberikan pelajaran-pelajaran keagamaan dan ketuhanan karena ilmu
termulia ialah mengenai Tuhan serta sifat-sifat yang pantas pada Tuhan.
2. Pengaruh suatu
pelajaran dalam bidang petunjuk atau tuntunan adalah dengan menjalani cara
hidup yang mulia, sempurna, seperti dengan ilmu akhlak, hadis, fikih…
3. Di samping itu, ada lagi mata pelajaran yang
dipelajari oleh orang-orang Islam karena mata pelajaran tersebut mengandung
kelezatan ideologi, yaitu apa yang oleh ahli-ahli pendidikan utama dewasa ini
dinamakan menuntut ilmu karena ilmu itu sendiri.
4. Orang-orang Muslim mempelajari ilmu
pengetahuan karena ilmu itu dianggap yang terlezat bagi manusia. Menurut fitrahnya, manusia
senang mengetahui sesuatu yang baru. (Abasyi 2003, hlm. 179).
Dengan demikian prinsip-prinsip
Kurikulum dalam pendidikan Islam ada tujuan yang ingin dicapai, tujuan jangka
pendek untuk didunia dan tujuan jangka panjang untuk diakhirat. Objek
materialnya adalah manusia dan objek formal nya adalah anak didik (manusia) karena
manusia dapat dididik dan memiliki potensi potensi untuk menjandi insan kamil terdiri dari unsure
nafsani rohani dan jasmani selain itu karena manusia memiliki akal penglihatan
dan hati sebagaimana firman Allah Allah mengeluarknmu dari perut ibumu dalam
kodisi tidak tahu apa apa dan menciptakan untuk pendengaran, penglihatan dan
hati agar kalian bersyukur (al-Nahl :56)
D. Kesimpulan
Berdasarkan uraian
diatas kurikulum di era globalisasi bahwa pendidikan Islam masih dapat
dipertahankan bahkan masing sangat diperlukan dalam mengadapi era globalisasi, dan
idealnya pendidikan islam diintegrasikan dengan ilmu-ilmu yang lain yang sesuai
dengan perkembangan zaman yang ada pada saat ini dengan tetap bersumber pada
ayat-ayat allah dan Hadist Rasul., Dengan menggunakan integrasi kurikulum
hingga dapat memenuhi tuntutan dan
kebutuhan pendidikan di era globalisasi
Secara formal kemunculan kurikulum sebagai bidang kajian
ilmiah, baru pada abad ke 20. Kurikulum pada masa klasik berbeda dengan
kurikulum pada masa sekarang. Kurikulum dalam lembaga pendidikan Islam klasik pada mulanya berkisar pada bidang studi tertentu. Namun dengan
perkembangan social dan cultural, materi kurikulum semakin meluas. Pada masa
nabi Muhammad SAW di Madinah, materi pelajaran berkisar pada belajar menulis,
membaca al-Quran, keimanan, ibadah, akhlak , dasar ekonomi, dasar politik, dan
kesatuan. Dengan demikian kurikulum dapat pula dipahami “ is al the experiences that pupils have under the guidance of the school”,
yaitu pengalaman anak di sekolah dibawah
bimbingan sekolah. Definisi ini mengandung bahwa kurikulum yang dibentuk
itu dapat mengkomodir seluruh potensi
anak dan sesuai perkembangan zaman.
Dalam
proses peningkatan kualitas akademik diperlukan pemikiran untuk memunculkan
kurikulum terpadu (integrated curriculum) yang memadukan antar ilmu pengetahuan
umum dan ilmu pengetahuan agama. Kurikulum terpadu dimaksudkan sebagai
usaha dalam menepis pandangan dikotomi antara pengetahuan agama
dan umum. Asumsi ini, berangkat dari asumsi bahwa pendidikan umum hanyalah
bersifat antroposentris dan senderung
melahirkan lulusan yang sekuler-materialis.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan praktisi pendidikan Islam, kareena
melihat kenyataan bahwa system pendidikan yang
islam sekuler-materialis telah
mengalami “ kegagalan” di barat (Eropa dan Amerika). Oleh karena itu para
intelektual mencoba untuk merumuskan
suatu kurikulum yang merupakan perpeduan antara keduanya, dan ini telah
melahirkan apa yang disebut dengan
kurikulum terpadu.
No comments:
Post a Comment